Tertambat di Negeri Karang

September 23rd, 2014 / / Comments Off on Tertambat di Negeri Karang
Posted in On the Road

Di negara kepulauan terbesar di dunia ini, masih banyak cerita tentang surga yang nyaris tak tergapai dan Taka Bonerate salah satunya. Mungkin apa pun yang dijuluki dengan embel-embel “surga” sudah sepatutnya sulit digapai.

Menonton kisah bocah bernama Piscine Molitor “Pi” Patel yang terombang-ambing di lautan tenang bersama seekor harimau Bengal dalam film Life of Pi (2012) langsung mengingatkan akan perairan Taka Bonerate, Sulawesi Selatan, yang dapat setenang danau di saat terbaiknya. Saking tenangnya, deretan awan cumulus di atas kepala pun terefleksikan sempurna di permukaan perairan di yang terhampar ujung selatan Pulau Sulawesi ini. Tak dapat diakses sepanjang tahun, ketika cuaca buruk pun laut yang mengamuk juga mirip yang digambarkan pasca kapal karam sehingga Pi harus berbagi perahu dengan Richard Parker, sang harimau. Andai Ang Lee mengetahui keberadaan Kepulauan Taka Bonerate, mungkin ia akan membawa para kru dan pemainnya untuk syuting di sini. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memang tidak kekurangan pantai-pantai cantik, tak terkecuali pantai-pantai di Kepulauan Taka Bonerate.

Teks Fransiska Anggraini & Yudasmoro Minasiani | Foto Asri


Bahan Tertawaan

Pertama kali ke Taka Bonerate, saya kira sesampainya di Pulau Selayar dapat langsung menuju gugusan atol ketiga terbesar di dunia yang terbentang di Laut Flores itu kapan saja. Karena berstatus taman nasional, untuk dapat memasuki kawasan ini harus meminta izin dan membayar uang masuk terlebih dahulu. Kalau sudah di kawasan pun juga tidak bisa sembarangan pergi ke pulau atau perairan yang ada di sana, terlebih ke zona-zona inti yang memang ditujukan untuk area konservasi sehingga tidak bisa ada kehadiran manusia. Untuk pengunjung, satu-satunya pulau dengan fasilitas yang sudah memadai hanya tersedia di Tinabo.

Melapor ke kantor Taman Nasional Taka Bonerate yang berlokasi di Kota Benteng, Selayar, pada suatu pagi, saya menjadi bahan tertawaan ketika mengatakan siang itu ingin ke Taka Bonerate. Taka Bonerate bukan Bunaken yang dapat ditempuh dalam waktu kurang dari satu jam dari pelabuhan Manado, di mana tersedia kapal yang dapat disewa kapan saja. Taka Bonerate juga bukan Pulau Weh yang dengan feri rutin tiga kali sehari dapat ditempuh dari Pelabuhan Ulee Lhee di Banda Aceh.

“Jarak ke Pulau Tinabo dari Kota Benteng naik speedboat paling cepat – kalau cuaca sedang bagus – adalah tiga jam,” ujar Ir. Jusman, Kepala Balai Taman Nasional Taka Bonerate yang pagi itu sedang ada di tempat.

“Belum banyak yang tahu bahwa kita bekerja sama dengan beberapa agen di Selayar untuk menjual paket wisata ke Tinabo. Oleh karena itu, sekarang kami memang belum terlalu gencar mempromosikan Taka Bonerate, namun sekadar agar orang tahu dan ingin ke Selayar dulu. Kalau mereka sudah ada keinginan ke Selayar, baru kita berikan tambahan informasi tentang Taka Bonerate. Kita juga tahu diri, karena memang belum tersedia kapal reguler dari Selayar ke Taka Bonerate. Biar pun di pulau terpencil begini, kami juga aktif di media sosial,” jelasnya lagi.

Berada di kantor Balai Taman Nasional Taka Bonerate, saya melihat banyak staf yang masih muda-muda. Demam media sosial di kalangan anak muda ternyata hingga ke Selayar dan bagusnya, hal ini dimanfaatkan untuk promosi tempat kerja mereka. “Kami sering sebar-sebar foto juga tentang Selayar dan Taka. Ketika respon semakin banyak, biasanya menanyakan tentang akses ke sana, kami kemudian berinisiatif membuat akun media sosial terpisah untuk Taka Bonerate,” jelas salah satu staf Balai Taman Nasional sambil memperlihatkan akun Twitter yang dimaksud di komputernya.

Untung saja keesokan harinya ada staf Balai Taman Nasional yang memang berencana ke Tinabo, sehingga saya diperbolehkan menumpang kapal tersebut. “Tapi bukan naik speedboat ya, melainkan kapal kayu sehingga perjalanan ke Tinabo bisa hingga delapan jam!”

 

Terjebak Mulut Macan

Ketika saya menanyakan jam keberangkatan ke Tinabo, salah satu staf Taman Nasional mengatakan bahwa mereka pun belum tahu pasti karena masih menunggu konfirmasi dari kapten kapal. Dan kapten kapal sendiri masih menunggu perkiraan cuaca terbaru.

“Kadang kita dibangunkan lewat tengah malam karena kapal berangkat pukul 02:00 WITA demi mengejar cuaca bagus. Karena cuaca jugalah kapal belum tentu berangkat dari Kota Benteng, bisa dari pelabuhan di Pattumbukan yang harus ditembuh dengan berkendara selama satu jam dari Kota Benteng,” jelasnya, sebelum meminta saya menunggu hingga pukul 20:00 WITA malam itu untuk kepastian jam keberangkatan ke Pulau Tinabo.

“Bukan menakut-nakuti, tapi kami pernah berangkat pagi, tapi karena cuaca buruk terpaksa harus merapat ke pulau terdekat dan baru bisa melanjutkan perjalanannya keesokan pagi,” ujar salah satu staf.

Darinya juga saya tahu bahwa Taka Bonerate ternyata dijuluki Kepulauan Macan karena bila dilihat dari udara, sejumlah 21 pulau yang ada di sini bagai tutul pada spesies macan tertentu. Topografi Taka Bonerate terdiri dari gugusan gosong (pulau pasir) dan rataan terumbu luas yang membentuk pulau-pulau. Di antara pulau-pulau gosong karang tersebut terdapat selat sempit yang dalam dan terjal, sedangkan pada bagian permukaan rataan terumbu terdapat kolam-kolam kecil yang dalam. Karena terumbu karang tersebar di mana-mana – nama Taka Bonerate sendiri dalam bahasa setempat berarti hamparan karang di atas pasir – hampir semua kapal yang memasuki perairan ini tidak bisa keluar karena terperangkap perairan yang dangkal dan gugusan karang tajam bak gigi macan. Kondisi ini sering disebut warga dengan masuk ke mulut macan. Bisa masuk, belum tentu bisa keluar.

 

Selengkapnya baca di Majalah Panorama edisi September/Oktober 2014.