Terhibur di Jaipur

July 23rd, 2018 / / Comments Off on Terhibur di Jaipur
Posted in On the Road

Satu hal akan berpengaruh ke hal lainnya. Kadang suatu rencana yang gagal adalah jalan untuk sebuah rencana lain yang lebih baik. Gagal ke Kathmandu, menghabiskan beberapa hari di Jaipur ternyata merupakan salah satu keputusan terbaik.

Setelah menghadiri pernikahan seorang kawan lama di Delhi, saya memang sengaja tidak langsung pulang ke Jakarta, melainkan tinggal beberapa hari karena seorang kawan lain yang tinggal di Singapura akan menyusul dan kami akan bertemu di Kathmandu. Pernikahan tradisional India ternyata memakan waktu setidaknya tiga hari, sehingga saya tak bisa leluasa menjelajah kota atau mencicipi suatu makanan karena keluarga teman saya sudah keburu menjamu para tamu dengan aneka hidangan yang saking melimpahnya, bahkan dapat memberi makan satu desa.

Namun ternyata, rencana tinggal rencana karena H-3 sebelum kedatangan, ayah sang teman yang tadinya mau menyusul sakit, sehingga ia harus membatalkan perjalanan. Saya bisa saja ke Kathmandu sendiri, namun kali itu adalah pertama kali saya ke India Utara dan belum pernah ke Agra dan Jaipur, yang bersama Delhi menjadi Segitiga Emas dalam pariwisata India. Karena ternyata semua pesanan hotel di Nepal masih bisa dibatalkan tanpa biaya, akhirnya saya memilih untuk menjelajahi India Utara, terutama Jaipur.

Pesta Berhari-hari

Bagi yang penasaran, pernikahan tradisional Hindu India mirip dengan pernikahan adat beberapa suku di Indonesia. Biasanya berlangsung selama tiga hari, di malam pertama, pendeta akan melakukan ganesh pooja, sebuah ritual dalam Hindu, bersama pasangan dan keluarga serta kerabat dekat pasangan. Mungkin acara ini dapat disamakan dengan kenduri sebelum memulai sebuah acara besar untuk memohon berkat diberikan kelancaran selama acara berlangsung.

Hari kedua diawali dengan perayaan mehndi, di mana mempelai wanita dan teman-teman maupun keluarga besar wanita akan melewatkan waktu bersama – sejenis bachelorette party – namun mereka mengisinya dengan melukis kaki dan tangan dengan henna. Malamnya, digelar Sangeet, di mana para tamu yang diundang ke resepsi akan hadir karena di sinilah akan diperkenalkan keluarga besar kedua mempelai, dan para undangan dari kedua mempelai dapat bersosialisasi sambil berdansa atau menonton pertunjukan (biasanya tarian). Hari ketiga adalah acara puncak karena merupakan resepsi. Tidak semua orang diundang ke acara ini, namun di setiap undangan akan tertera kehadiran undangan diharapkan pada hari kedua, ketiga, atau bahkan keduanya.

Serba Spontan

Setelah menghadiri agenda acara di hari kedua dan ketiga, keesokan harinya saya naik kereta ke Jaipur. Perjalanan naik kereta cepat di pagi hari dari Delhi memakan waktu 4,5 jam dan setibanya di stasiun Jaipur, saya dijemput mobil sewaan. Hasil bersosialisasi di hari kedua pesta pernikahan, sepupu mempelai wanita yang menikah dengan warga Jaipur mengaku bertetangga dengan seseorang yang kerap menyewakan mobil dengan kerja sama dengan agen wisata setempat. Inilah juga yang membuat tekad saya lebih bulat untuk menuju Jaipur ketimbang Kathmandu. Saat itu juga sang sepupu meminta istrinya untuk menelpon ke rumah keluarganya untuk meminta nomor telepon sang tetangga.

Tak sampai lima menit, sang sepupu sudah terhubung dengan pemilik penyewaan mobil di Jaipur. Mereka berbicara dalam bahasa setempat yang tidak saya mengerti (ada puluhan bahasa daerah di India dengan bahasa persatuan bahasa Hindi), namun sepertinya mereka berbincang dalam bahasa Rajashtani. Memang benar, pernikahan di kultur India sama seperti permainan golf, di mana perayaan ini juga dapat menjadi ajang untuk meluaskan jejaring dan bahkan membicarakan bisnis.

“Jangan khawatir, istri saya sudah mengenal dia sejak lahir, jadi harga yang diberikan pasti yang terbaik,” ujar sepupu teman saya ketika itu. Saya tidak ada gambaran tentang harga sewa mobil di India karena saya memang semua serba spontan. Yang saya tahu, Jaipur adalah kota yang dijuluki Pink City karena seluruh bangunan di kota ini bercat kemerahan. “Anda tahu mengapa bangunan-bangunan di Jaipur merah? Di masanya, Jaipur konon  adalah kota dengan arsitektur terindah di India.” tanya Mohan supir saya sambil mengemudikan mobil meninggalkan stasiun dan menuju ke hotel. Rencananya saya akan check-in dulu, baru berkeliling kota. Itinerary-nya belum saya tetapkan, baru akan dibicarakan dengan supir karena ia yang tahu rute-rutenya.

“Ya, saya pernah baca kalau Jaipur dicat merah untuk menyambut kedatangan Ratu Victoria dan Pangeran Wales yang berkunjung,” jawab saya. “Betul sekali! Tahun 1876, mereka berkunjung ke Jaipur dan Baginda Sawai Ram Singh yang berkuasa ketika itu memerintahkan warga untuk mengecat semua bangunan dengan warna merah, menyamai bangunan-bangunan tua di kota ini yang memang dibangun dengan sandstone berwarna pink. Warna ini memang melambangkan keramah-tamahan,” jelasnya.

“Oh, apakah itu sebabnya juga pengantin laki-laki mengenakan turban berwarna pink karena warna ini melambangkan keramah-tamahan dan mengenakan pink berarti siap menyambut tamu” tanya saya, tiba-tiba teringat pengalaman menghadiri pernikahan tradisional India dan melihat mempelai pria mengenakan turban berwarna pink. “Bisa jadi begitu. Tidak pernah terlintas di pikiran saya sebelumnya bahwa warna turban pengantin yang pink adalah lambang keramah-tamahan, alasan yang sama sang maharaja memerintahkan untuk mengecat seluruh Jaipur pink,” jawab Mohan sambil terkekeh.

Setelah check-in dan meletakkan barang di kamar hotel, saya meminta Mohan untuk membawa saya ke tempat makan siang. Ketika ditanya sedang ingin makan apa saya tak bisa menjawab, sehingga ia pun inisiatif membawa saya ke sebuah restoran bernama Midtown (midtowndine.in) yang menawarkan berbagai masakan agar saya memiliki banyak pilihan. “Tak hanya masakan India Utara, tapi tempat ini juga menyediakan masakan Barat, terutama Italia. Lagipula saya tidak tahu apakah Anda doyan masakan India atau tidak” jelasnya.  Saya sudah pasti tak akan memilih menu Italia karena yang saya dengar, restoran Tiongkok di India pun dimasak dengan rempah melimpah, sehingga hasil akhirnya nyaris tak berbeda dengan tipikal masakan India.

Saya mengajak Mohan menemani saya makan siang karena tujuan saya adalah ingin mendiskusikan rute penjelajahan Jaipur yang hanya tiga hari dua malam ini. “City Palace, Jantar Mantar, dan Hawa Mahal letaknya berdekatan di pusat kota. Kita bisa pergi ke ketiga tempat tersebut setelah makan siang. Besok kita Amber Fort dan Water Palace, kemudian hari terakhir sebelum kembali ke Delhi bisa mampir ke Jaigarh Fort atau Galta Temple,” saran Mohan.

Walau waktu saya sedikit, namun saya ingin mendapatkan pengalaman unik di Jaipur. “Apakah sedang ada pertunjukan tertentu, mungkin tarian tradisional atau festival khas, sekarang atau dalam satu-dua hari ke depan?” tanya saya sambil mengunyah samosa, yang direspon Mohan dengan tak lama sibuk  mencari-cari info pada ponselnya dan tak lama menelpon seseorang. Tentu saja saya tak mengerti isi omongannya, namun kemudia dia berbisik kalau temannya sedang mencarikan info tentang pertunjukan tari Kathak di Amber Fort. “Kalau memang ada pertunjukan nanti malam, hari ini saja kita ke sana!” ujarnya selagi menunggu lawan bicaranya di telepon terhubung kembali.

* Baca selengkapnya di Majalah Panorama edisi Juli– September 2018. 
Teks: Dennis H. Putra