Tempat Favorit Sutradara Hollywood

September 23rd, 2014 / / Comments Off on Tempat Favorit Sutradara Hollywood
Posted in On the Road

Sejak 1920, para sineas rela jauh-jauh datang ke Thailand untuk mendapatkan latar Asia yang spektakuler, lengkap dengan gajah dan hutannya yang lebat hingga kebudayaannya yang eksotis. Selain Bangkok, ternyata Hua Hin juga telah lama menjadi lokasi syuting favorit para sutradara Hollywood.

Teks & foto Melinda Yuliani


Lanskap yang eksotis hingga pinggiran kota yang sibuk dengan motor yang melintas serta penjaja makanan yang menawarkan dagangannya dengan antusias – inilah gambaran Asia yang dicari sutradara Hollywood, dan Thailand mampu memberikannya. Dalam satu wilayah yang berdekatan, Thailand memiliki pemandangan yang beragam, mulai hutan, gunung, pantai, hingga kehidupan kota yang gemerlap. Selain itu, biaya produksinya pun relatif rendah dengan industri film dalam negeri yang mampu menyediakan kru tambahan yang berpengalaman. Tak heran bila sejak puluhan tahun lalu, banyak produser film asing yang memilih lokasi pengambilan gambar di Thailand.

Sebut saja Around the World in 80 Days (1956), The Ugly American (1963), The Big Boss (1971), dan The Man with the Golden Gun (1974). Perang Vietnam pun turut membuat Thailand menjadi lokasi pilihan bagi banyak pembuat film perang seperti The Deer Hunter (1978), Good Morning, Vietnam (1987), Casualties of War (1989), dan The Killing Fields (1984).

Selain karena genre tersebut populer di tahun 1980-an, banyak sutradara dan aktor yang benar-benar bertugas di Vietnam dan menghabiskan R&R (istilah militer untuk Rest and Relaxation) di Thailand.

Saya menonton The Killing Fields beberapa tahun lalu, ketika sedang menyelesaikan kuliah Jurnalistik. Saya tak terlalu mengingat detailnya, selain bahwa film tersebut mengisahkan sejarah kelam genosida di rezim Khmer Merah yang melibatkan seorang tokoh jurnalis. Baru belakangan ini saya mengetahui bahwa Roland Joffé menfilmkan The Killing Fields ketika perang saudara masih berkecamuk di Kamboja, dengan latar sejumlah bangunan di Phuket dan Hua Hin.

 

Hua Hin

Tujuan saya kali ini ke Thailand adalah mencari destinasi dengan suasana tenang di sekitar Bangkok. Alih-alih terbang ke Krabi dan Koh Samui, Thailand memiliki Hua Hin yang hanya tiga jam berkendara dari Bangkok dan dapat ditempuh dengan bus yang berangkat dari Bandara Suvarnabhumi.

Memiliki resor tepi pantai yang dicintai keluarga kerajaan, Hua Hin merupakan weekend getaway bagi penduduk Bangkok. Jalan darat menuju kota ini lebar dan mulus, busnya pun aman dan nyaman dengan tarif terjangkau. Meski terbilang tidak murah untuk standar Thailand, Hua Hin juga lengkap memiliki akomodasi mewah yang menghadap pantai, selain akomodasi tipe guesthouse, bed and breakfast, dan sejumlah penginapan terjangkau lainnya.

Impresi pertama saya akan Hua Hin adalah sama sekali berbeda dari Bangkok. Bila Bangkok adalah tipikal metropolitan dunia – kesibukan yang selalu mengikuti para pekerja kantoran, kemacetan di jam-jam sibuk, dan waktu yang berjalan cepat – Hua Hin menawarkan suasana yang santai. Yang mengaku workaholic sekalipun akan “dipaksa” untuk mengikuti ritme kehidupan Hua Hin yang lambat.

 

Selengkapnya baca di Majalah Panorama edisi September/Oktober 2014.