Si Cokelat Puno yang Jarang Diketahui Wisatawan

May 6th, 2020 / / Comments Off on Si Cokelat Puno yang Jarang Diketahui Wisatawan
Posted in On the Road

Rata-rata wisatawan yang berkunjung ke Peru hanya masuk dari ibu kota Lima dan langsung menuju Cusco untuk mengunjungi Machu Picchu, padahal pesona Peru sebagai destinasi wisata sangatlah berlimpah. Puno adalah salah satu pesona yang menjadikan Peru begitu atraktif dan eksotis.

Puno merupakan hamparan kota di tepi Danau Titicaca, danau terbesar di Amerika Selatan, yang saking luasnya terhampar 60 persen di wilayah Peru dan sisanya di wilayah Bolivia. Karena didominasi bangunan berwarna kecokelatan, keseluruhan wajah kota pun ikut tampak cokelat.

Dari dekat, barulah terlihat bahwa rumah-rumah kecokelatan itu terbuat dari batu bata dan sengaja dibiarkan tampak belum jadi. Beberapa malah tidak memiliki atap, sementara beberapa bangunan tiga lantai sengaja hanya ditempati lantai duanya (lantai satu dan tiga sengaja dikosongkan). Ternyata ini cara warga Peru melepaskan tanggung jawab sebagai wajib pajak dengan menempati bangunan yang terkesan belum jadi.

Keunikan Puno membuatnya menarik untuk dikunjungi dan inilah sejumlah alasan mengapa pejalan direkomendasikan untuk berkunjung ke sana.

Plaza de Armas Puno

Dalam bahasa Spanyol, alun-alun utama kota disebut Plaza de Armas. Karena sekaligus merupakan pusat kawasan kota tua, Plaza de Armas biasanya dikelilingi gereja terbesar setempat dan bangunan bersejarah lainnya, selain retoran, hotel, dan tentu saja toko suvenir. Rata-rata toko suvenir di berbagai kota di Peru hampir sama, yang membedakan hanya satu dua barang.

Di Puno misalnya, yang tidak terdapat di tempat lain adalah rajutan atau lukisan yang menggambarkan kehiduan atau sistem kepercayaan komunitas-komunitas di sekitar Danau Titicaca. Karena suvenir yang mirip- mirip inilah, maka bila ada barang yang sama yang ingin dibeli, terutama kain, dengan mudah ditemukan di banyak kota.

Pulau Taquile

Pulau terpencil di Danau Titicaca ini dihuni sekitar 2.200 penduduk penutur bahasa Quechua, bahasa yang digunakan semasa Kekaisaran Inca. Wisatawan biasanya ke pulau ini seusai mengunjungi pemukiman warga Uros dengan tujuan utama makan siang di salah satu restorannya yang berada di atas bukit. Untuk menuju restoran-restoran tersebut, para wisatawan harus trekking ringan selama 30 menit hingga satu jam, dengan berhenti di beberapa tempat untuk mengintip kehidupan para warganya yang unik.

Pada 2005, kerajinan dari pulau ini dinobatkan UNESCO sebagai warisan dunia berkat keindahan dan proses pengerjaannya yang masih mempertahankan metode tradisional. Para wanita di pulau ini bertugas menenun, sementara para prianya merajut benang wol. Semua orang di pulau ini harus berkontribusi kepada komunitas dengan bekerja sesuai kapasitas masing-masing, ini merupakan nilai yang dipegang teguh masyarakat Quechua sejak zaman Kekaisaran Inca yang terkenal akan kredo tidak boleh malas, tidak boleh berbohong, dan tidak boleh mencuri.

Colca Canyon

Ngarai colca merupakan ngarai terdalam kedua di dunia (4.160 meter) dan merupakan atraksi wisata yang populer di Peru. Di sinilah burung-burung kondor beterbangan, terutama di pagi hari yang cerah. Burung kondor endemik Pegunungan Andes tak hanya hanya lambang negara Peru, namun juga Argentina, Bolivia, Chile, Kolombia, dan Ekuador, yang berada dalam satu kawasan serta merupakan tokoh penting dalam mitologi maupun cerita rakyat warga Andes.

Burung kondor Andes merupakan spesies yang terancam punah akibat semakin berkurangnya habitat mereka di Amerika Selatan, namun Ngarai Colca adalah tempat yang istimewa karena di sinilah burung kondor terbang cukup dekat dengan wisatawan. Para wisatawan yang ingin melihat atraksi burung kondor di Ngarai Colca biasanya bermalam di Chivay yang dikelilingi teras-teras pertanian yang telah ada sejak masa sebelum Inca. Desa-desa di sekitar Chivay juga dihuni oleh komunitas Collagua dan Cabana yang telah menghuni Colca sejak 800 tahun sebelum Masehi.