Santiago de Compostela yang Penuh Legenda (Bagian 2)

November 25th, 2019 / / Comments Off on Santiago de Compostela yang Penuh Legenda (Bagian 2)
Posted in On the Road

Namanya selalu dihubungkan dengan Camino de Santiago, berjalan kaki minimal 100 kilometer dari berbagai tempat di Prancis, Spanyol, dan Portugal menuju kuburan Santo Yakobus, martir pertama yang diakui Gereja, yang berada di kota Santiago de Compostela yang penuh legenda berbau mistis.

“Apa pun yang kamu dengar tentang Spanyol, tidak berlaku di Galicia. Saya merasa harus mengatakan ini di awal supaya tidak salah sangka. Di Galicia kami menentang adu banteng, misalnya. Kami juga memiliki bahasa sendiri, yaitu bahasa Galiticia, yang lebih dekat dengan bahasa Portugis ketimbang Spanyol.

Galicia juga merupakan salah satu tempat yang kental budaya Celtic-nya, sampai-sampai alat musik tradisional kami salah satunya berupa bagpipe,” ujar Paloma yang berbicara sangat cepat dalam bahasa Inggris. Setelah terbang selama 24 jam dari Jakarta menuju Madrid kemudian menyambung dengan penerbangan domestik ke Santiago de Compostela, penjelasan itu perlu waktu untuk dicerna.

“Jangan khawatir, nanti waktu kita berjalan-jalan di kota tua Santiago de Compostela juga akan melihat sendiri yang saya maksudkan tadi. Bahkan pengamen bagpipe pun sering terlihat di sebelah hotel tempat kalian akan menginap,” tambahnya lagi, mungkin karena melihat dahi saya yang sedikit berkerut. Bahasa Portugis? Budaya Celtic? Sekilas, Galicia memang membingungkan!

Katedral yang Istimewa

Tentu saja kami tidak ikut mengantre karena padatnya jadwal selama berada di Santiago de Compostela. Paloma menyarankan kami untuk pagi-pagi – berhubung kami tinggal di hotel yang hanya beberapa langkah dari Katedral – mengunjungi gereja yang selesai dibangun pada tahun 1211 tersebut ketika masih sepi. Alternatif lainnya adalah dengan mengikuti misa bagi para peziarah yang telah selesai mengikuti Camino de Santiago. Walau menggunakan bahasa Spanyol, namun suasana haru yang menyelimuti misa ini sangatlah universal.

Selain itu, keistimewaan misa ini adalah pemberkatan dengan kemenyan yang tersimpan dalam tabung kemenyan (censer) terbesar di dunia dengan berat 53 kilometer. Censer ini akan mengayun tinggi dan cepat dengan diayun oleh delapan orang. Dilengkapi museum yang menyimpan reruntuhan gereja dari abad 13 hingga 18, di sini pulalah dapat disaksikan berbagai ornamen yang pernah menghiasi gereja bergaya Romanesque, Gotik, Barok, dan Neoklasik ini, seperti tekstil dan karpet yang dibuat berdasarkan lukisan karya Francisco Goya.

Tak hanya mengunjungi gereja, Katedral Santiago de Compostela juga menawarkan tur ke atap gereja selama satu jam untuk mengetahui lebih dalam tahap-tahap restorasi maupun menikmati pemandangan kota dari ketinggian.

Kami berjalan menuju Mercado de Abastos de Santiago (Pasar Abastos) yang merupakan tempat paling terkenal kedua di Santiago de Compostela setelah Katedral. Namun karena sudah sore, pasar itu sudah tutup karena setiap hari hanya buka hingga pukul 15:00. Paloma sekadar ingin menunjukkan tempatnya agar kami dapat kembali lagi sendiri ke pasar tersebut jika nanti punya waktu kosong di sela-sela jadwal yang telah disiapkan.

Sepanjang jalan, kami melewati aneka toko dan Paloma sibuk memberitahukan berbagai hal yang dapat kami bawa pulang ke Indonesia. Sepertinya ia telah menerima brief dari Badan Pariwisata Spanyol kalau orang Asia, terutama Indonesia, sangat senang belanja oleh-oleh. Di toko suvenir banyak dijual pernak-pernik bertema penyihir dan peri karena memang sejarah Galicia yang erat kaitannya dengan budaya Celtic yang penuh mitos dan legenda. Oleh karena itulah Galicia juga dijuluki Terra Meiga (negeri penuh magis).

“Selain minyak zaitun khas Galicia yang ada sedikit jejak manis, kalian juga bisa membawa pulang tarta de Santiago atau kue Santo Yakobus. Tak ada yang tahu mengapa kue almond bertabur gula halus ini dinamai kue Santo Yakobus, kecuali karena selama ratusan tahun dihiasi dengan salib lambang ordo Santiago,” jelas Paloma.

Dibangun pada 1837, Pasar Abastos memuat 300 toko yang menjual berbagai produk dan hasil bumi setempat, seperti keju tetilla yang berbentuk mirip payudara, aneka seafood eksotis yang hanya ada di perairan Galicia, antara lain goose barnacles, sejenis kerang yang hidup di sela-sela karang; scorpionfish; dan oktopus. Pasar ini dikelilingi kedai kopi, di mana selain dengan aneka kue manis, warga setempat juga minum kopi sambil mengudap empanada (pai tipis isi tuna cincang).

Dua jam lagi kami akan makan malam, namun saya tak kuasa menutupi rasa penasaran akan empanada, sehingga saya pun mengusulkan kepada Paloma untuk mampir minum kopi dan makan empanada agar dapat lebih meresapi gaya hidup warga setempat.

“Di jam segini kita tidak lagi minum kopi, tapi aperitif,” ujarnya sambil tertawa.“Kita bisa juga minum aperitif, atau apa saja sesuai selera, asalkan memesan empanada!” kata saya sambil menunjuk senampan besar empanada yang belum dipotong di balik etalase kedai kopi. Tak lama, lonceng Katedral berdentang dan membuat suasana pasar yang sepi itu semakin syahdu.

How to get there

Dari Jakarta, terbang terlebih dahulu ke Madrid dengan Qatar Airwarys via Doha. Dari Madrid, perjalanan dilanjutkan dengan pesawat domestik ke Santiago de Compostela selama 50 menit dengan Iberia. Karena Qatar dan Iberia memiliki perjanjian code share, maka koper dapat diambil langsung di Santiago de Compostela sebagai tujuan terakhir.

Where to stay