Santiago de Compostela yang Penuh Legenda (Bagian 1)

November 22nd, 2019 / / Comments Off on Santiago de Compostela yang Penuh Legenda (Bagian 1)
Posted in On the Road

Namanya selalu dihubungkan dengan Camino de Santiago, berjalan kaki minimal 100 kilometer dari berbagai tempat di Prancis, Spanyol, dan Portugal menuju kuburan Santo Yakobus, martir pertama yang diakui Gereja, yang berada di kota Santiago de Compostela yang penuh legenda berbau mistis.

“Apa pun yang kamu dengar tentang Spanyol, tidak berlaku di Galicia. Saya merasa harus mengatakan ini di awal supaya tidak salah sangka. Di Galicia kami menentang adu banteng, misalnya. Kami juga memiliki bahasa sendiri, yaitu bahasa Galiticia, yang lebih dekat dengan bahasa Portugis ketimbang Spanyol.

Galicia juga merupakan salah satu tempat yang kental budaya Celtic-nya, sampai-sampai alat musik tradisional kami salah satunya berupa bagpipe,” ujar Paloma yang berbicara sangat cepat dalam bahasa Inggris. Setelah terbang selama 24 jam dari Jakarta menuju Madrid kemudian menyambung dengan penerbangan domestik ke Santiago de Compostela, penjelasan itu perlu waktu untuk dicerna.

“Jangan khawatir, nanti waktu kita berjalan-jalan di kota tua Santiago de Compostela juga akan melihat sendiri yang saya maksudkan tadi. Bahkan pengamen bagpipe pun sering terlihat di sebelah hotel tempat kalian akan menginap,” tambahnya lagi, mungkin karena melihat dahi saya yang sedikit berkerut. Bahasa Portugis? Budaya Celtic? Sekilas, Galicia memang membingungkan!

Bekas Rumah Sakit

Mobil melaju lambat ketika memasuki Santiago de Compostela, kota tua yang kini menjadi ibu kota Galicia. Hotel kami, Parador de Santiago atau yang lebih dikenal dengan sebutan Hostal dos Reis Catolicos, berada di Plaza del Obradoiro atau di seberang katedral yang menjadi landmark kota dan tujuan ribuan para peziarah setiap tahunnya. Karena mobil tidak dapat masuk ke kawasan kota tua, maka kami harus menggeret koper melewati jalanan berbatu menuju hotel.

Banyak peziarah yang telah menyelesaikan Camino de Santiago tampak berbaring di lantai alun-alun Katedral, sementara peziarah yang telah selesai melepaskan berbagai emosi yang mereka rasakan tampak berfoto dengan latar gereja kuno yang dibangun pada 1075 itu. Di bawah terik matahari akhir musim panas, tampak antrean mengular untuk masuk Katedral Santiago de Compostela yang disebut-sebut sebagai salah satu gereja terindah di dunia berkat keunikan dan keberadaan Portico of Glory yang bergaya Romanesque.

Merupakan hotel mewah yang dikelola Grup Parador (parador.es), salah satu hotel tertua di dunia ini bertempat di bangunan bersejarah yang merupakan rumah sakit untuk menampung para peziarah yang kurang sehat ketika tiba di Santiago de Compostela sejak 1499. Tempat ini baru diubah fungsinya menjadi sebuah hotel oleh Parador pada tahun 1950-an.

Ketika tahu akan tidur di bekas rumah sakti, kami berpandang-pandangan. “Ah tapi ini rumah sakit untuk peziarah, bukan rumah sakit umum yang menerima bermacam kasus mengerikan atau mengadakan penelitian sadis seperti di film-film horror,” ujar salah seorang dari kami berusaha menguatkan.

Kamar-kamar yang kami tempati memang ditata apik selayaknya hotel butik berbintang lima dengan penerangan yang memadai dan membuatnya jauh dari kesan angker, walau perabotannya banyak yang antik. Setelah meletakkan koper, kami turun ke lantai dasar untuk makan siang di restoran hotel ini yang menyajikan beragam masakan tradisional Galicia yang banyak menggunakan seafood.

Setelah beberapa kali kunjungan ke Spanyol, saya tak kaget lagi dengan jam makan siang warga negara ini yang baru mulai pukul 14:00 dan bisa berlangsung hingga pukul 17:00 karena mereka begitu mengagung-agungkan makan tanpa diburu-buru.

Kunjungan ke Santiago de Compostela ini memang atas undangan Badan Pariwisata Galicia melalui Badan Pariwisata Spanyol. Seusai makan siang yang panjang dengan menu tujuh course, waktu menunjukkan pukul 17:30 dan sambil menunggu matahari agak sedikit bersahabat, kami pun mengamalkan gaya hidup warga Spanyol, yaitu siesta.

Setelah perjalanan panjang dari Jakarta dengan tiga kali berganti pesawat, dapat tidur selama satu jam di sela-sela kegiatan adalah hal yang patut disyukuri. Toh, masih musim panas dan matahari baru terbenam sekitar pukul 21:00 sehingga hari masih panjang untuk menjelajahi kota tua.

Santiago de Compostela memang mungil, namun hampir setiap langkah dipenuhi bangunan bersejarah dan arsitektur yang memukau dan dimanfaatkan sebagai museum, hotel, restoran, kafe dan biara. Di mana-mana terdapat restoran yang menggelar meja di luar ruangan di bawah payung-payung penangkal terik matahari di siang hari. Paloma benar, ketika melangkah keluar hotel telinga mendengar bagpipe sedang ditiup musisi jalanan yang mengenakan pakaian tradisional Galicia.

“Seperti sedang berada di Skotlandia, ya?” celetuk Paloma ketika kami melewati antrean pengunjung yang ingin memasuki Katedral yang di musim panas buka hingga pukul 21:00.