Menyibak Misteri Topeng Mah Meri

September 16th, 2015 / / Comments Off on Menyibak Misteri Topeng Mah Meri
Posted in On the Road

 

Berukuran besar dibanding topeng-topeng pada umumnya, ekspresi yang tergambar pada topeng pun penuh misteri dan cenderung menyeramkan sehingga tampak mencolok di tengah keramaian Malaysian International Mask Festival (MIMAF) 2015. Itulah topeng suku Mah Meri, suku asli yang menghuni Pulau Carey, salah satu pulau di Selangor yang berjarak 90 kilometer dari pusat kota Kuala Lumpur.

Kesan seram itu sirna ketika topeng didekati, berhubung bahasa tubuh si pemakai topeng ternyata sangatlah jenaka sehingga menghibur siapa pun yang melihatnya. Sesekali ia menggerakkan tangannya seolah sedang menyibak rambut yang terbuat dari daun nipah dan berkata, “Why so serious?”

Seram dan Jenaka
Namanya Elias. Usianya kira-kira 30 tahunan. Malam itu ia dibalut kostum dari kulit kayu dan topeng berukuran besar menutupi wajahnya yang kecil. Itu semua tak mengurangi kelincahan gerakannya. Sesekali tangannya diangkat menopang pipi lalu memegang daun nipah yang menjuntai dari kepala, menirukan gerakan menyisir rambut, sementara kakinya bergoyang ke kanan dan ke kiri.
Tingkahnya jenaka. Walau sebenarnya ekspresi dari topeng yang ia kenakan sama sekali jauh dari itu. Mata topeng itu berukuran besar dengan gigi yang juga tampak besar. Tak ada ekspresi bibir melengkung tersenyum di sana.

Tok Naning adalah salah satu moyang suku Mah Meri. Sosoknya sangat dihormati karena selain berpenampilan menarik, Tok Naning juga baik hati karena ia kerap membagikan makanan bagi yang membutuhkan. Selain topeng Tok Naning, ada beberapa jenis topeng Mah Meri yang lain, antara lain topeng Puteri Gunung Ledang, Pongkol dan Bojus. Setiap topeng memiliki kisahnya sendiri. Elias lalu menunjuk bentuk topeng-topeng lainnya yang kebetulan sedang mendekat. Bentuk wajah topeng-topeng itu ada yang memiliki guratan bawah mata, pipi yang cekung, dan bibir yang mengatup.

2

Pembukaan Festival

Malam itu, saya hadir untuk menyaksikan pembukaan Malaysian International Mask Festival (MIMAF) 2015 yang diusung oleh Kementerian Pariwisata dan Budaya Malaysia atas undangan dari Malaysia Tourism Promotion Board Jakarta. Digelar untuk pertama kalinya, Azizah Aziz, Direktur Komunikasi Korporat Kementerian Pariwisata dan Budaya Malaysia yang saya temui mengatakan festival ini terinspirasi dari festival topeng legendaris di Venesia, selain bahwa Malaysia menyimpan banyak tradisi topeng dan yang paling terkenal adalah topeng kayu suku Mah Meri yang menetap di Pulau Carey, Selangor.

Panggung yang berada di tengah kolam taman Kuala Lumpur City Centre tampak mulai benderang. Air mancur warna-warni bersembur di setiap sudut panggung. Suasana menjadi lebih riuh saat YB Datuk Mas Ermieyati Binti Samsudin, Timbalan Menteri Pariwisata dan Budaya Malaysia membuka festival yang berlangsung 13 hingga 16 Agustus 2015 ini. Satu per satu peserta festival topeng kemudian tampil membawakan tarian. Selain suku Mah Meri, turut pula tampil tarian topeng dari Indonesia, Thailand, Filipina, Sri Lanka, Tiongkok, dan Korea Selatan.

3

 

Hari Kedua Festival
Dari Hotel Grand Millenium tempat saya menginap di kawasanBukit Bintang, saya naik kereta menuju Bukit Nanas. Hanya melewati dua pemberhentian dengan tak lebih dari 15 menit untuk sampai di gedung Malaysia Tourism Centre atau disebut juga MATIC, di sinilah arak-arakan festival topeng MIMAF 2015 berawal. Dari MATIC, para peserta festival topeng akan melewati jalan-jalan utama seperti Jalan Ampang, Jalan Sultan Ismail, Jalan P. Ramlee hingga berakhir di Suria KLCC.

Lagi-lagi tak sulit untuk menemukan Elias dan kawan-kawan dari suku Mah Meri di antara peserta yang sudah memadati ruang auditorium MATIC. Pakaian mereka yang mencolok karena terbuat dari kulit kayu, daun nipah yang dijalin sebagai hiasan, serta topeng kayu berukuran besar itu tampak menonjol di antara ratusan orang yang berkostum tari dan topeng warna-warni.

Layaknya tarian yang merayakan sesuatu, penari bergerak riang sesuai penuh semangat karena tarian ini adalah ungkapan syukur kepada Moyang sekaligus meminta restu agar dijauhkan dari penyakit, kegagalan panen, hingga kesulitan mendapatkan buruan. Tarian ini dinilai sangat sakral karena suku Mah Meri sangat menghormati pendahulu mereka, sehingga mereka pun memiliki perayaan tahunan Hari Moyang. Merunut sejarahnya, perayaan Hari Moyang dilakukan karena pada suatu hari tetua suku mendapat pesan dari Moyang dalam mimpinya. Tidak diketahui sejak kapan perayaan ini digelar, namun hingga saat ini perayaan tersebut selalu digelar setelah Tahun Baru Cina pada Februari atau Maret, dan tidak ada jadwal pasti setiap tahun karena penentuan harinya berdasarkan posisi bulan. Penentuan perayaan Hari Moyang dilakukan oleh Ketua Suku dan, sesuai tradisi yang sudah turun temurun, di hari itu topeng akan dikenakan.

Tidak semua orang bisa mengenakan topeng kayu Mah Meri karena topeng ini sudah didoakan sebelumnya. Suku Meh Meri sendiri pun tidak ada yang berani sembarang mengenakan topeng karena dapat mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Meski terbuat dari kayu yang dipahat, topeng-topeng suku Mah Meri ini tidaklah berat karena terbuat dari kayu pulai yang ringan.