Malaga Pada Musim Panas Itu

September 16th, 2015 / / Comments Off on Malaga Pada Musim Panas Itu
Posted in On the Road

Sudah lama saya ingin mengunjungi kota-kota di Andalusia di selatan Spanyol yang terkenal akan berbagai peninggalan Islamnya. Namun ketimbang mengunjungi Granada atau Cordoba, saya lebih memilih Malaga yang belum terlalu dikenal. Terletak 100 kilometer di timur Selat Gibraltar, Malaga membentang di sepanjang Costa del Sol yang berada di pesisir selatan Spanyol. Walau merupakan kota industri yang terus bertumbuh dengan populasi terpadat di Andalusia, namun Malaga tetap menjaga tradisi maupun peninggalan sejarahnya.

Warna-Warni Kota
Mengunjungi Spanyol terasa berbeda dibandingkan dengan negara-negara Eropa lain seperti Belanda dan Jerman, misalnya. Dilihat dari arsitektur dan aneka warna bangunannya, Spanyol terasa lebih ceria dan berwarna. Bangunan rumah dan flat dengan teras berteralis menjadi pemandangan di jalan-jalan kecil. Di antara kawasan residensial, terselip restoran dan kafe karena makanan memang menjadi elemen penting dalam budaya masyarakatnya. Dikenal sebagai masyarakat yang senang berpesta, di musim panas bila berjalan-jalan di kota mana pun di Spanyol akan terdengar alunan gitar Spanyol yang mengundang untuk siapa pun yang mendengarnya ikut menari dan berdendang. Suasana yang juga saya dapati di Malaga ini mengingatkan saya pada telenovela Meksiko.

2

Suhu Malaga yang berada di kisaran 35 – 38 derajat Celcius pada musim panas itu membuat saya banyak berpeluh. Kota-kota di selatan Spanyol bersuhu lebih hangat pada musim dingin, sehingga pada musim panas pun cuacanya menjadi ekstra panas dibandingkan kota-kota lain di Eropa. Bagi saya yang ketika itu sudah setahun belajar dan tinggal di Belanda, suhu tersebut membuat kewalahan karena sudah terbiasa dengan kondisi cuaca di Belanda yang sering mendung, berangin, dan dingin. Namun, hal tersebut tidak mengurangi antusiasme dalam menjelajahi Malaga.

Menyusuri Pusat Kota
Rumah Lara terletak tak jauh dari pusat kota Malaga. Meskipun demikian, untuk mencapai pusat kota, saya harus sering bertanya kepada penduduk setempat karena begitu banyak persimpangan yang membingungkan. Tidak terlalu banyak orang Spanyol yang berbicara bahasa Inggris, namun mereka tetap ramah dan menunjukkan jalan dengan isyarat dan bahasa tubuh.

Saya tidak tahu Malaga adalah kota kelahiran Pablo Picasso hingga menjejakkan kaki di kota ini. Masyarakat Malaga konon sangat bangga akan hal tersebut dan hal ini diungkapkan dengan kehadiran Museo Picasso Malaga di Palace of Condes de Buenavista, bangunan bergaya Renaissance berhiaskan elemen dekorasi Moorish yang telah direstorasi. Museum Picasso ini terletak tak jauh dari katedral dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki.

3

Sebanyak 204 hasil karya Pablo Picasso tersimpan di museum yang diresmikan pada 2003 ini. Dengan mengeluarkan 10 euro, pengunjung mendapatkan tiket terusan ke Museo Picasso Malaga. Selain menikmati lukisan, objek menarik lainnya adalah sejumlah peninggalan arkeologi dari Fenisia (phoenician), Romawi, Islam, dan Renaissance yang ditemukan pada saat proses pembangunan museum ini. Setiap dua jam sebelum tutup di hari Minggu, pengunjung dapat masuk museum ini dengan gratis.

Romawi di Malaga
Terletak di kaki bukit Gibralfaro, El Teatro Romano atau Teater Romawi merupakan peninggalan sejarah tertua di Malaga dan sudah berdiri sejak satu abad sebelum masehi. Penemuan Teatro Romano ini ternyata merupakan ketidaksengajaan yang terjadi ketika membangun taman kota Casa de Cultura pada 1951. Proses pembangunan taman kemudian dihentikan dan proses ekskavasi segera dilakukan dan berlangsung selama bertahun-tahun. Barulah pada 2011 teater ini dibuka untuk umum, terutama untuk menampilkan berbagai pertunjukan di musim panas.

Teatro Romano sendiri dibangun di bawah pemerintahan Raja Augustus pada satu abad sebelum masehi dan teater ini sempat digunakan selama tiga abad. Setelah terabaikan selama ratusan tahun, teater baru digunakan kembali ketika bangsa Moor datang dan menetap di Andalusia. Namun, alih-alih digunakan kembali sebagai teater, sisa-sisa bangunan megah ini digunakan sebagai area galian untuk membangun Alcazaba yang selesai dibangun pada abad ke-11. Sementara itu, Teatro Romano yang sudah tinggal puing-puing pun semakin terkubur dan baru ditemukan kembali pada 1951.

 

Teks & foto Maisya Farhati