Lorong-lorong Sunyi Biara di Arequipa

August 15th, 2017 / / Comments Off on Lorong-lorong Sunyi Biara di Arequipa
Posted in On the Road

Arequipa menjadi saksi betapa dulu biara dihuni gadis-gadis dari keluarga kaya raya, dan dengan begitu, biara pun menjadi simbol gengsi tersendiri di abad pertengahan Peru.

Ketika mendengar bahwa Arequipa adalah kota yang sangat kolonial, saya tak menyangka kalau wajahnya akan seperti tipikal kota di Spanyol. “Seperti di Cordoba!” celetuk saya ketika mobil memasuki kawasan kota tua, tempat hotel saya berada.

Kota Putih

Arequipa yang merupakan salah satu kota tercantik di Peru ini dilatari deretan pegunungan berpuncak salju, yaitu Ampato (6.288 meter), Chachani (6.075 meter), dan El Misti (5.825 meter). Berada di selatan Peru dan dapat ditempuh dalam satu jam naik pesawat dari ibu kota Lima.

“Silakan beristirahat dulu hari ini. Besok kita bertemu lagi di sini pukul 09:00,” ujar pemandu setelah mengantarkan saya ke konter Resepsionis untuk check-in.

Hotel butik Casa Andina Premium Arequipa yang dipilihkan oleh operator wisata terkemuka di Amerika Selatan Condor Travel ini berlokasi hanya beberapa blok dari Plaza de Armas (bahasa Spanyol untuk alunalun utama kota). Sebagai kawasan pusat kota yang menyumbangkan julukan Arequipa sebagai Kota Putih, di sini memang dipenuhi bangunan berwarna putih bergaya barok dari andesit, jenis batuan vulkanik yang terbentuk dari lava yang mengeras. Pada tahun 2000, kawasan Plaza de Armas dan sekitarnya dinyatakan UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia. Casa Andina Premium Arequipa hanya memiliki 40 kamar dan hotel butik ini berdiri di bekas Casa de la Moneda, bangunan yang telah ditetapkan sebagai situs bersejarah yang dibangun pada 1794.

“Pintu Biara Santa Catalina berada di belakang hotel ini dan hari ini biara tersebut buka sampai pukul 17:00. Silakan ke sana kapan pun sebelum pukul 16:00, karena setidaknya butuh satu jam untuk berkeliling biara. Di sana nanti akan ada pemandu yang akan mendampingi, tinggal sebutkan nama Anda saja,” sambungnya sambil menyerahkan selembar brosur tentang biara tersebut.

Hari itu saya memang dijadwalkan mengunjungi Biara Santa Catalina, salah satu atraksi wisata utama di Arequipa. Seperti tempat wisata lainnya, biara ini buka setiap hari pukul 09:00 hingga 17:00, kecuali Selasa dan Rabu yang buka hingga pukul 19:30 bagi yang ingin membayangkan suasana ratusan tahun lalu ketika para biarawati berjalan-jalan di lorong kompleks ini dengan hanya diterangi cahaya lilin.

Gentar Masuk Biara

Walau Biara Santa Catalina merupakan salah satu bangunan yang dilindungi UNESCO, namun sebenarnya saya tak terlalu bersemangat ke sana. Tiga belas tahun bersekolah di sekolah Katolik, setiap mendengar kata “biara” selalu memunculkan cemas berlebihan. Selama masa-masa formatif tersebut, biara berarti suster kepala sekolah yang galak dan tak segan-segan memberikan tugas tambahan atau membuat siapa pun berdiri berjam-jam di tempat umum yang dapat dilihat semua orang sebagai hukuman. Sampai sekarang, saya pun masih segan setiap bertemu biarawati.

“Tidak akan bertemu biarawati kan dalam tur ini?” tanya saya kepada pemandu Biara Santa Catalina yang akan mengantar berkeliling.

“Tidak. Sekitar 20 biarawati yang tersisa dari biara ini tinggal di sisi lain yang terpisah. Mereka memang tidak boleh bertemu orang dari luar biara karena merupakan ordo yang tidak boleh berbicara,” jawab sang pemandu dan saya pun menghela napas lega.

Saking luasnya, bekas biara ini kerap digambarkan sebagai “kota di dalam kota”. Cara terbaik mengelilingi kompleks biara ini adalah dengan menyewa jasa pemandu yang tersedia di pintu masuk ketika membeli tiket (dengan tambahan biaya), dan dapat memilih bahasa yang diinginkan, apakah Spanyol, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Portugis, atau Jepang. Diperlukan setidaknya dua jam untuk berkeliling kompleks pemukiman biarawati yang terhubung dengan jalan sempit berbatu dan semak bunga yang indah ini. Bila tak menggunakan pemandu, biara juga dapat ditelusuri secara independen dengan menavigasikan bangunan-bangunan penting dari peta yang tercetak di belakang tiket.

Lorong-lorong biara yang saya tahu selama ini bercat putih dengan paduan warna-warna lembut, biasanya abu-abu muda atau hijau muda. Namun tidak halnya dengan Biara Santa Catalina. Begitu melewati konter pembelian tiket, mata langsung disambut dengan dinding bercat merah bata dengan peringatan “Silencio” (yang meminta siapa pun untuk tidak bersuara dalam bahasa Spanyol) dengan font hitam besar yang mengintimidasi. Semak geranium berbunga merah tampak di sana-sini. Kesan “angker” (saya tidak bisa tidak memikirkan tentang hukuman-hukuman semasa sekolah) diseimbangkan dengan warna hangat dan bunga-bunga yang bermekaran. Cahaya keemasan matahari sore itu semakin menambah kesan bersahabat.

Biara Santa Catalina dibangun setelah kunjungan penguasa Spanyol Francisco Toledo ke Arequipa dan mendapat masukan dari pemerintah setempat untuk membangun biara, yang kemudian dikeluarkanlah izin untuk membangun biara ordo Santa Catalina dari Siena. Doña María de Guzmán, seorang wanita bangsawan setempat pada suatu hari di tahun 1580 menyumbangkan semua hartanya dan mengurung diri di biara yang baru dibangun tersebut, sehingga ketika biara tersebut diresmikan, ia tercatat sebagai penghuni biara pertama – namun ia juga kerap disebut-sebut sebagai orang yang berperan membangun Biara Santa Catalina. Mungkin sebagian pembangunannya menggunakan harta yang telah ia sumbangkan tersebut.

* Baca selengkapnya di majalah Panorama edisi Juli-Agustus 2017.
Teks: Fransiska Anggraini