Lima Hari Keliling Wakayama

November 13th, 2015 / / Comments Off on Lima Hari Keliling Wakayama
Posted in On the Road

 

Hari 1
Jakarta – Osaka via Singapura dengan Singapore Airlines

Proses check-in Business Class tak perlu memakan waktu lama, selain proses Imigrasi pun dapat dilakukan di dalam lounge eksekutif yang tersedia. Perjalanan satu jam 20 menit menuju Singapura tak terasa lama karena melimpahnya hiburan di sistem inflight entertainment KrisWorld yang terdiri lebih dari 100 film, selain lebih dari 170 serial televisi dari seluruh dunia dan 740 CD music dan 80 game 3D multiplayer. Ddengan tersedianya layanan Book the Cook, penumpang dapat memesan hidangan utama sebelum terbang di website www.singaporeair.com ketika membeli tiket secara online di maupun melalui agen perjalanan tempat membeli tiket, setidaknya 24 jam sebelum terbang.

Sesampainya di Singapura, jeda penerbangan ke Osaka tidak lama, yaitu hanya sekitar dua jam karena memang Singapore Airlines mendesain jam penerbangannya sedemikian rupa agar konektivitas antar penerbangan efisien, sehingga penumpang tak perlu transit lama. Dalam perjalanan ke ruang tunggu penerbangan ke Osaka, boarding pass dapat ditukarkan dengan voucher 20 dolar Singapura di konter iShopChangi yang terletak di dekat konter GST Refund.

Penerbangan SQ168 ke Osaka berangkat pukul 01:30. Karena begitu tiba di Osaka akan langsung beraktivitas, maka penerbangan selama enam jam itu dimanfaatkan dengan beristirahat. Business Class di rute medium pada pesawat Airbus 330-300 memiliki konfigurasi kursi 2 – 2 – 2. Setiap kursi dirancang ergonomis dengan jok dari kulit premium yang dapat diatur nyaris rata seperti ranjang sehingga menjamin kenyaman beristirahat. Headrest dan lumbar support pada kursi untuk menopang punggung bawah pun dapat diatur.

 

Hari 2
Osaka – Wakayama City

SQ 618 pagi itu tiba di Osaka lebih awal 30 menit dari yang dijadwalkan, yaitu pada 08:30. Perjalanan langsung dilanjutkan ke Wakayama naik mobil, yang ternyata hanya 40 menit berkendara dari Kansai International Airport dalam keadaan lalu-lintas normal. Masih merupakan wilayah Kansai, Wakayama Prefektur yang berlokasi di Semenanjung Kii, semenanjung terbesar di Jepang, mungkin yang paling tidak populer di kalangan pejalan dibandingkan Kyoto, Nara, atau Kobe. Terletak di selatan Kansai, Wakayama memiliki cuaca yang hangat dengan deretan pengunungan yang subur sehingga sebagai menjadikannya sebagai kawasan pertanian yang ideal untuk buah-buahan.

Kurushio-ichiba Market

Karena mulai lapar, pemberhentian pertama adalah makan siang di Kuroshio-ichiba Market, pasar seafood terbesar di Wakayama yang terletak di kompleks Wakayama Marina City di tepi pantai. Selain menjual aneka seafood – segar maupun yang telah diolah – tempat ini juga menjual beragam makanan khas setempat, selain menyediakan area barbecue yang terletak menghadap ke Teluk Wakaura. Setiap meja di sini dilengkapi alat pemanggang, lengkap dengan thong dan garam, untuk memanggang seafood segar yang dibeli dari pasar di sebelahnya.

Wakayama Castle

Dari Kurushio-ichiba Market, perjalanan dilanjutkan ke Wakayama Castle yang dibangun pada 1585 atas perintah Toyotomi Hideyoshi, salah satu keturunan Shogun Tokugawa, penguasa Jepang di zaman Edo. Di musim semi, kastil megah yang ditumbuhi sekitar 600 pohon sakura ini merupakan tempat yang populer untuk menikmati pemandangan kebanggaaan masyarakat Jepang. Dari puncak Wakayama Castle, terhampar pemandangan Wakayama City dan Kano River dari ketinggian.

Ide Shoten Ramen Shop

Wakayama memiliki banyak rumah makan ramen dan Ide Shoten yang terletak tak jauh dari JR Wakayama Station adalah yang paling terkenal. Kepopulerannya ini berawal sejak warung mungil ini dinobatkan sebagai ramen terbaik di Jepang oleh sebuah program televisi pada 1998.

Comfort Hotel Wakayama

Hotel bisnis dari salah satu jaringan hotel terbesar di dunia yang berbasis di Amerika Serikat ini baru dibuka pada 1 September 2015. Terletak strategis di tengah kota yang dikelilingi restoran dan pusat perbelanjaan, letaknya hanya dua menit berjalan kaki dari JR Wakayama Station.


Hari 3
Wakayama City – Yuasa – Shirahama

Hari ini perjalanan akan dilanjutkan terus ke selatan Wakayama Prefektur dengan pemberhentian pertama di Yuasa untuk melihat pabrik shoyu, berhubung di kota inilah tempat kelahiran soy sauce-nya Jepang yang biasanya digunakan untuk makan sashimi dan sushi, selain sebagai penambah rasa dalam berbagai menu donburi. Soy sauce awalnya dibuat oleh biksu dari sisa pembuatan miso, yang ternyata dapat digunakan sebagai condiment.

Yuasa

Dari Wakayama City, Yuasa hanya 30 menit berkendara dan tak butuh waktu lama untuk sampai di pabrik Yuasa Soy Sauce Ltd. yang bertempat di rumah tradisional Jepang. Dulu ada sekitar 90 pabrik soy sauce, namun kini hanya tersisa empat yang tetap mempertahankan metode tradisional yang masih manual serta penggunaan bahan-bahan alami, yaitu kedelai hitam terbaik yang tumbuh di Tanba, Kyoto.

Shirahama

Walau Shirahama tergolong kota kecil, namun taman hiburan Lebih cocok dikunjungi keluarga yang memiliki anak kecil, highlight dari tempat ini adalah keberadaan sembilan ekor panda dengan dua bayi yang lahir Desember tahun lalu. Pengunjung dapat melihat kedua bayi panda yang diberi nama Ouhin dan Tauhin ini bermain dengan ibu mereka.

 

Hari 4
Shirahama – Natchikatsuura via Kushimoto

Setelah sarapan, perjalanan diteruskan ke Natchikatsuura dengan mampir ke beberapa pesona alam yang tersebar di Shirahama, seperti Engetsu-to Island.  Pulau tak berpenghuni ini memiliki julangan tebing karst yang di tengahnya berlubang mirip Pasih Uwug di Nusa Penida. Di saat-saat tertentu, matahari akan terbenam tepat di lubang pada pulau sehingga menyajikan pemandangan yang spektakuler dan telah dinobatkan sebagai salah satu dari 100 panorama matahari terbenam di Jepang.

Kushimoto

Di Kushimoto, yaitu titik paling selatan di Pulau Honshu, tepatnya di National Road 42, dalam perjalanan menuju Natchikatsuura terdapat Hashigui-iwa Rocks yang sekilas mirip Twelve Apostles di Great Ocean Road di negara bagian Victoria, Australia. Kata “hashi” dalam bahasa Jepang berarti jembatan, karena memang julangan tebing-tebing batu ini berderet seperti jembatan yang menghubungkan antara Kushimoto dan pulau kecil di pantainya yang bernama Pulau Oshima.

 

Hari 5
Natchikatsuura – Osaka

Merupakan kota ketiga terbesar di Jepang setelah Tokyo dan Yokohama, Osaka adalah metropolitan yang gemerlap. Dijuluki Dapurnya Jepang, Osaka – dan wilayah Kansai – adalah tempat asal banyak makanan khas Jepang, seperti takoyaki dan okonomiyaki. Kobe, tempat asal salah satu daging sapi terbaik di dunia pun dapat diakses dari Osaka dengan dua jam perjalanan dan Kyoto yang merupakan penghasil teh hijau terbaik di Jepang pun dapat diakses naik kereta selama 40 menit dari Osaka.

 

Teks & foto: Fransiska Anggraini

Artikel lengkap dapat dibaca di majalah Panorama edisi November-Desember 2015