Ke Mana di 2019?

January 5th, 2019 / / Comments Off on Ke Mana di 2019?
Posted in On the Road

Kami menyelidiki banyak tempat di dunia ini yang patut menjadi masuk dalam daftar kunjung selama 2019, terutama bagi yang mencari petualangan di berbagati tempat yang belum banyak terdengar di kalangan pejalan Indonesia. Berikut beberapa di antaranya.

1. Baku, Azerbaijan

Ibu kota Azerbaijan yang menghadap Laut Kaspia ini menawarkan perpaduan kuno dan modern. Kota Tuanya yang dipagari dinding batu merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO dengan deretan bangunan bergaya gotik dan barok yang terpelihara dengan baik. Sementara di pusat kotanya berdiri Flame Towers, gedung pencakar langit tertinggi di negara itu, dengan layar LED yang menampilkan pergerakan api yang terlihat bahkan dari titik-titik terjauh di kota. Sebutan “Dubai Baru” pun kemudian melekat pada kota ini – tak hanya karena panoramanya, namun juga karena hub kaya minyak yang tumbuh dengan cepat di persimpangan Eropa, Asia, dan Timur Tengah. Meski jumlah kunjungan turisnya relatif lebih rendah ketimbang kota-kota lainnya di Asia, Baku sangatlah aman dan penduduknya pun ramah. Walau ada hambatan bahasa, namun mereka tetap menyapa orang asing dengan senyuman dan rasa ingin tahu. 

Waktu terbaik: September ketika cuaca cerah dan harga hotel lebih murah ketimbang musim panas

2. Bogota, Kolombia

Kolombia merupakan salah satu tujuan terpopuler selama 2018 dan untuk 2019 pun sepertinya popularitas ini akan berlanjut. Alasan utama wisatawan ke sini rata-rata untuk mencicipi seduhan kopi dari biji-biji terbaik, menikmati pantai berpasir putihnya yang indah, maupun mengintip kekhasan makanannya. Bogota relatif aman dengan akses mudah ke sejumlah atraksi, banyak restoran di Bogota menawarkan menu makan siang yang lezat dan terjangkau menggunakan bahan-bahan setempat yang berkualitas. Sejumlah museumnya pun dapat dikunjungi secara gratis dan jangan lewatkan tur untuk mengetahui proses pembuatan dan sejarah perdagangan kopi Kolombia. 

Waktu terbaik: Desember hingga Maret ketika curah hujan lebih rendah

3. Caen, Prancis

Merupakan rumah peristirahatan terakhir William Sang Penakluk, ibu kota Basse-Normandie ini sempat rusak parah selama Invasi Normandia. Namun, sejumlah peninggalan bersejarahnya, terutama yang di pusat kota, membuat kota ini tetap menarik untuk dikunjungi. Pejalan dapat menemukan benteng megah dari kastel abad pertengahan yang menawan, dua biara kuno, gereja yang menampilkan arsitektur gotik dan renaisans, serta deretan museum, termasuk Mémorial de Caen yang sebagian besar didedikasikan untuk D-Day. D-Day sendiri adalah istilah militer dalam bahasa Inggris untuk merujuk hari dimulainya operasi militer, dengan D-Day yang paling terkenal dalam sejarah adalah Invasi Normandia ketika tentara Sekutu berencana untuk membebaskan Eropa dari kekuasaan Nazi selama Perang Dunia II. Dengan beragam pilihan akomodasi dan restoran, Caen yang relatif mungil dapat dijelajahi dengan berjalan kaki maupun naik trem dan bus.

Waktu terbaik: April, September, dan Oktober untuk menghindari keramaian turis

4. Chandigarh, India

Chandigarh di utara India merupakan salah satu dari kota-kota pertama yang dibangun di India. Arsitek Swiss-Prancis Le Corbusier lah yang merancang rencana induk kota, dan hingga saat ini, desain dan arsitekturnya dianggap sebagai salah satu yang terbaik di India. Keunikan kota ini dapat dinikmati dari Capitol Complex, kompleks perkantoran pemerintah seluas 66 hektar yang terdiri tiga bangunan, tiga monumen, dan danau ini bahkan telah terdaftar dalam Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 2006. Terletak di kaki Pegunungan Shivalik Hills, kota ini merupakan tempat populer untuk mengawali perjalanan ke Shimla, Manali, dan bahkan Leh di kawasan Jammu dan Kashmir. Rock Garden yang menampilkan berbagai patung dari keramik, botol, gelas, gelang, ubin, dan beragam material daur ulang lainnya pun menarik untuk dikunjungi selagi di sini, selain menyusuri Danau Sukhba naik perahu di sore hari sembari menikmati pemandangan pegunungan di kejauhan.

Waktu terbaik: Musim gugur antara pertengahan Agustus hingga November ketika cuacanya menyenangkan untuk berjalan kaki

5. Gdańsk, Polandia

Telah bertahun-tahun luput dari perhatian turis yang lebih memilih menginjakkan kaki di Krakow, Wroclaw, dan Warsawa, kota pelabuhan di pesisir Baltik ini adalah salah satu kota yang tergabung dalam Liga Hansa, sebuah aliansi ekonomi kota-kota perdagangan kuno di Eropa yang telah aktif dari abad 12 hingga 17. Hingga kini, pengunjung masih dapat melihat contoh arsitektur Hansa di kota ini, meski bangunan tersebut tak asli, melainkan dibangun ulang pada 1945 setelah pusat kota Gdańsk dibom dan habis dilalap api. Mereka yang tak familiar dengan sejarah Gdańsk mungkin tak akan menyadari deretan bangunan menawan dengan atap segitiga di Long Market (Długi Targ) adalah hasil pembangunan ulang. Di dekat beberapa gereja di alun-alun ini juga ditunjukkan foto-foto bangunan setelah pengeboman, sehingga pengunjung dapat melihat besarnya upaya warga setempat untuk mengembalikan wajah Gdańsk seperti yang dulu.

Waktu terbaik: September ketika tak terlalu ramai turis dan cuacanya menyenangkan untuk berjalan kaki.  Desember juga menyenangkan, terutama bila ingin menikmati salju dengan panorama kota yang lebih fotogenik

6. Glasgow, Skotlandia

Memiliki salah satu koleksi seni terbesar di Eropa, kota ini menawarkan perpaduan menarik antara museum, galeri, dan destinasi wisata pemenang penghargaan kelas dunia, seperti Kelvingrove Art Gallery and Museum dan Riverside Museum, dengan sebagian besar gratis. Kota ini juga merupakan satu-satunya tempat di dunia yang menyimpan karya terbanyak dari arsitek dan desainer Glasgow, Charles Rennie Mackintosh, termasuk Mackintosh House dengan interior yang dibuat semirip mungkin dengan rumah pertama Mackintosh untuk istrinya. Di lain waktu, pejalan dapat menonton pertunjukan musik, seperti bar legendaris King Tut’s Wah Wah Hut dan SSE Hydro yang merupakan salah satu arena hiburan tersibuk di dunia. Tur berjalan kaki dengan beragam tema juga banyak ditawarkan di sini, seperti tur bertema arsitektur yang antara lain mengajak peserta ke UniversitasGlasgow yang konon menjadi inspirasi untuk sekolah sihir Hogwarts dalam kisah Harry Potter, selain ke sejumlah bangunan modern dan inovatif di sepanjang tepi sungai.

Waktu terbaik: Mei, Juni, dan September ketika siang lebih panjang dan curah hujan rendah

7. Ischia, Italia

Menurut legenda Yunani kuno, pulau di Teluk Napoli ini tercipta ketika Zeus bertarung dengan monster bernama Tifeo (dikenal juga sebagai Typhon atau Typheus). Zeus memenangkan pertempuran dan mengubur Tifeo di bawah tumpukan batu, di mana monster tersebut kemudian melampiaskan amarahnya dengan memukul permukaan bumi hingga menciptakan gunung berapi. Itu hanya satu dari sekian banyak kisah yang terinspirasi oleh lanskap dramatis Ischia. Pulau menawan yang kaya akan mata air panas ini memiliki beragam atraksi untuk semua orang, mulai dari penyuka sejarah Yunani kuno hingga pecinta film La Dolce Vita (1960). Berjuluk Pulau Hijau, Ischia berselimutkan taman (La Mortella Gardens disebut-sebut sebagai salah satu taman tercantik di Eropa), perkebunan anggur, selain dikelilingi pegunungan dan pedesaan cantik.

Waktu terbaik: Juli dan Agustus ketika cuaca cerah, atau musim dingin ketika suhu lebih dingin dan suasana pulau lebih sepi karena merupakan low season.

8. Ishigaki, Jepang

Dinobatkan sebagai salah satu tujuan wisata paling populer di 2018 oleh TripAdvisor, pulau di Prefektur Okinawa ini mengiming-imingi pengunjung dengan pantai-pantai indah yang dikelilingi hutan bakau yang rimbun dan mengingatkan akan pantai-pantai di Hawaii atau Fiji. Tak hanya hutan bakau, pantai-pantai di Ishigaki pun beragam. Ada pantai berpasir putih, berbatu karang, hingga yang berdasar pasir landai dan dangkal sehingga cocok untuk berenang, dengan Pantai Yonehara sebagai pantai terpopulernya. Opsi lainnya adalah ke Kabira Bay di mana pengunjung dapat melihat keindahan bawah laut dari perahu berdasar kaca. Sama halnya dengan setiap sudut lainnya di Jepang yang memiliki hidangan khasnya tersendiri, begitu pula Ishigaki yang terutama terkenal dengan yaeyama soba.

Waktu terbaik: Musim panas hingga awal musim gugur (Juni hingga Oktober), namun hindari libur nasional Jepang (seperti Golden Week)

9. Koh Mook, Thailand

Koh Mook (Koh Muk) di Provinsi Trang masih berada di bawah radar pariwisata massal (untuk saat ini) sehingga cocok untuk menghindari ledakan pariwisata yang melanda Koh Samui, Koh Phi Phi, dan Phuket. Koh Mook pun telah dilengkapi resor-resor pantai mewah dengan para pengelola yang berkomitmen untuk menjaga pulau ini tetap bersih dan alami. Pantai-pantai yang direkomendasikan untuk dikunjungi di sini adalah Haad Farang yang merupakan tempat terbaik untuk menikmati pemandangan matahari terbenam dan Mermaid Beach yang menawarkan hamparan pasir putih dengan banyak kaca laut (sea glass). Karena mungil, semua pantai di Koh Mook dapat diakses dengan berjalan kaki (dari ujung pulau ke ujung yang lain hanya setengah jam saja berjalan kaki!). Atraksi lain di sini adalah Emerald Cave (Tham Morakot), di mana pengunjung harus berenang melalui gua sepanjang 80 meter sebelum tiba di pantai mungil berpasir putih yang dikelilingi bukit kapur yang eksotis.

Waktu terbaik: Desember hingga Maret, karena curah hujan antara Mei hingga Oktober cukup tinggi, sehingga aktivitas pun terbatas dan kebanyakan resor tutup

10. Lasem, Jawa Tengah

Kota terbesar kedua di Kabupaten Rembang ini sangatlah menarik, terutama bagi para pecinta sejarah, arsitektur, dan batik. Merupakan kota di Jawa Tengah dengan populasi keturunan Tionghoa terbanyak, kota ini memiliki sejumlah kelenteng, dengan yang paling indah adalah Cu An Kiong yang juga merupakan kelenteng tertua di Lasem. Konon, Laksamana Cheng Ho merapatkan kapalnya di Sungai Lasem, tepat di seberang kelenteng, karena rupanya sungai yang bermuara ke Laut Jawa tersebut dulunya merupakan jalur perdangan yang ramai. Atraksi utama lainnya yang tak pernah terlewat dalam daftar kunjungan pejalan saat ke Lasem adalah Kampung Karangturi. Rumah-rumah tua berarsitektur Tionghoa di kampung ini tak hanya sekadar tempat tinggal, melainkan juga difungsikan sebagai bengkel-bengkel penghasil batik pesisiran dengan warna khas, yakni merah darah ayam, hijau botol, dan biru tua. Karena proses yang rumit dan semuanya merupakan batik tulis (bukan batik cap), harga batik di Lasem relatif tinggi.

Waktu terbaik: Menjelang Tahun Baru Imlek dan saat cengbeng (April)

11. Ljubljana, Slovenia

Untuk ukuran ibu kota, Ljubljana adalah kota kecil. Kota terbesar di Slovenia ini hanya memiliki 280.000 penduduk, sehingga seseorang dapat berjalan dari satu sisi pusat bersejarahnya ke sisi yang lain dalam waktu sekitar 15 menit. Namun, salah satu kota tercantik di Eropa ini menyimpan banyak hal menarik, seperti kawasan kota tuanya dengan bangunan berwarna pastel dan beratap terakota yang mengapit jalan-jalan berbatunya. Menara geraja dan kastel menghiasi cakrawala kotanya, sementara kawasan pejalan kaki di tepi sungainya yang membelah kota menawarkan banyak kafe, restoran, dan bangku panjang yang cocok untuk merilekskan kaki usai berjalan kaki mengeksplornya. Bila ingin melakukan day trip, ada banyak tempat menarik yang dapat diakses dengan mudah, seperti Danau Bled dengan kastel abad pertengahan yang menjulang di tengah danau, pegunungan Kranjska Gora yang memiliki belasan lereng ski dengan tingkat kesulitan yang beragam, dan kompleks gua karst Postojna dengan formasi stalaktit dan stalagmit yang menawan.

Waktu terbaik: September ketika cuaca masih hangat dan hotel pun relatif lebih murah ketimbang musim ramai turis di Juli-Agustus

12. Mostar, Bosnia & Herzegovina

Tak banyak yang mengetahui keberadaan Mostar, kota tua abad 16 yang mendapat pengaruh Ottoman ini. Padahal lokasinya hanya beberapa jam dari Dubrovnik yang sedang naik daun. Suasana santai dan menyenangkan di Mostar dapat dinikmati dengan duduk-duduk di salah satu kafe di tepi Sungai Neretva atau melihat-lihat bazaar yang berderet di jalanan berbatu. Merupakan kota multibudaya yang  menawarkan paduan suasana Ottoman, Mediterania, dan tentu saja, Eropa,  masjid, gereja, dan sinagoga pun berdampingan dengan harmonis. Stari Most (Old Bridge) adalah salah satu tempat paling sering dipotret di kota ini. Didirikan 500 tahun lalu, jembatan ini rusak parah pada 1993, sehingga direstorasi dan dibuka kembali pada 2004. Warga setempat memiliki tradisi yang telah dilakukan selama berabad-abad,  yaitu melompat dari Stari Most yang tingginya mencapai 20-an meter untuk terjun ke air yang suhunya 15 derajat Celsius. Karena kemudian turis banyak yang ingin melakukan tradisi tersebut, agar tetap dapat melompat dengan aman, Diver’s Club kemudian menyediakan pelatihan singkat teknik melompat seharga 25 euro. Jika kemudian ragu untuk melompat setelah diberikan pelatihan, pengunjung hanya perlu membayar 10 euro saja.

Waktu terbaik: Musim semi merupakan waktu terbaik untuk mengunjungi Mostar, di mana hari berjalan lebih panjang  dengan temperatur yang bersahabat. Suasana di kota pun akan lebih ramai karena masyarakat sudah mulai beraktivitas normal pasca libur musim dingin yang panjang, sementara jalanan dan pemandangan pun semakin apik dengan bunga dan pepohonan yang mulai bermekaran.

13. Riga, Latvia

Selama 800 tahun, sejarah mencatat ibu kota Latvia ini pernah disinggahi ksatria Jerman, raja Swedia, dan komisaris Soviet. Kota metropolitan yang berada di persimpangan Eropa Timur dan Eropa Utara ini menampakkan kecantikan kotanya melalui menara gotik di Kota Tua yang berbaur dengan fasad bergaya Art Nouveau yang fantastis. Petualangan di Riga dimulai dari kawasan Kota Tua-nya yang ditetapkan UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia. Dibelah Sungai Daugava, Kota Tua Riga terdiri alun-alun yang dikelilingi restoran, tempat hiburan malam, galeri seni, dan museum. Memiliki banyak bangunan Art Nouveau, hal ini berawal ketika Riga mengalami peningkatan finansial dan kaum borjuis berlomba-lomba membangun rumah dan bangunan megah. Sentra pemukiman bergaya Art Nouveau berada di Distrik Centrs dengan bangunan paling menarik adalah rumah nomor 10a dan 10b di Elizabetes Street rancangan Mikhail Eisenstein yang dijuluk Antoni Gaudí-nya Riga.

Waktu terbaik: Juli, ketika suhu hangat dan hotel menawarkan tarif yang lebih murah dibandingkan bulan lain. Biasanya, puncak kunjungan terjadi di awal musim panas dan menjelang dan sesudah Tahun Baru (29 Desember hingga 8 Januari).

14. Seville, Spanyol

Ibu kota kawasan Andalusia ini adalah kota tempat asal flamenco yang berakar dari budaya kaum Gipsi. Flamenco kerap digelar di jalanan oleh para penari-penari amatir, namun untuk menikmati tarian ini dengan yang lebih profesional, dapat menikmati pertunjukan yang digelar setiap hari di Museo del Baile Flamenco (museodelbaileflamenco.com). Opsi lain untuk menikmati flamenco adalah di El Palacio Andaluz (elflamencoensevilla.com), sebuah teater dari abad 19 yang berada dekat Basilika de la Macerena (hermandaddelamacarena.es). Seville yang tergolong ramah pengendara sepeda ini dikunjungi wisatawan berkat keberadaan Real Alcázar (alcazarsevilla.org), sebuah istana megah yang dijadikan lokasi syuting Game of Thrones, yaitu untuk istana House Martell of Sunspear di Dorne. Real Alcázar yang dibangun Peter of Castile dengan gaya arsitektur Mudejar (era Kristen di Iberia yang telah dipengaruhi oleh budaya Moorish) dan dikelilingi taman yang indah ini telah ditetapkan UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia pada 1987. Jika ingin melihat wajah Seville dengan santai, duduk-duduklah di Plaza de Espana yang indah berhiaskan keramik, air mancur, dan kanal buatan, atau di kawasan Santa Cruz yang dulunya merupakan hunian Yahudi.

Waktu terbaik:September hingga Januari merupakan waktu terbaik untuk mengunjungi Seville, karena kota ini sedang sepi turis, sehingga tiket pesawat ke sini maupun akomodasi tidak semahal di musim panas yang merupakan puncak kunjungan wisatawan.

15. Tashkent, Uzbekistan

Kiprah Uzbekistan sebagai destinasi wisata di Asia Tengah mulai diperhitungkan. Hal ini tak mengherankan karena ibu kota Tashkent menawarkan kontras yang unik, yaitu metropolitan dengan sejumlah museum, restoran, dan kehidupan malam yang gemerlap di satu sisi,  dan aktivitas menantang, seperti arung jeram dan ski di sisi lain. Tashkent adalah kota kuno yang merupakan bagian dari Jalur Sutera yang kini di seantero kotanya dihiasi bangunan-bangunan peninggalan era Soviet. Sejumlah titik menarik di kota ini, antara lain Distrik Oq-Tepa, Mausoleum Abubakr Mukhammed Kaffal Chachi yang menawarkan arsitektur indah. Daya tarik Tashkent dapat semakin diresapi  dengan mengunjungi Moyie Mubarek Library Museum, sebuah museum perpustakaan yang menyimpan Osman Quran, yang dipercaya sebagai Al Quran tertua di dunia dari abad ke-7. Kitab suci yang dilapisi kulit rusa ini dibawa ke Samarkand oleh Timue, kemudian dipindahkan ke Moskow oleh Rusia pada 1868, hingga akhirnya dikembalikan ke Tashkent oleh Lenin pada 1924 sebagai langkah untuk berdamai dengan warga Muslim Tashkent. Museum ini juga berisi puluhan buku langka dari abad 14 hingga 17, selain koran berukuran ibu jari. Untuk berinteraksi dengan warga setempat yang ramah, Chorsu Bazaar lah tempatnya.

Waktu terbaik: Musim semi dan musim gugur karena udara yang hangat dan minim hujan. Wisatawan juga dapat menikmati kawasan gurun dengan nyaman tanpa panas yang berlebihan. November hingga Maret langit bisa sangat cerah, sehingga Anda akan dapat memiliki foto lanskap yang menakjubkan, selain di bulan-bulan tersebut bukanlah puncak kunjungan turis.