Jejak Pala di Banda Neira

November 24th, 2015 / / Comments Off on Jejak Pala di Banda Neira
Posted in On the Road

 

Ke mana pun kaki melangkah di Kepulauan Banda, wangi rempah tercium semerbak. Hampir di semua halaman rumah menjemur pala – yang nama latinnya saja Myristica fragrans, di mana “fragrance” berarti wewangian – kenari, atau cengkih. Wangi pala ternyata sempat bercampur anyir darah, berhubung pala pernah menjadi alasan beribu manusia kehilangan nyawa.

 

Setelah enam jam lebih duduk di kapal cepat dari Pelabuhan Tulehu di Ambon melewati Laut Banda yang dari pelajaran SD diketahui memiliki tempat palung terdalam di Indonesia, akhirnya kapal merapat di pelabuhan Banda Neira di Pulau Neira, Kepulauan Banda. Ketika itu jam menunjukkan pukul empat sore lebih sedikit. Kehidupan di sekitar pelabuhan baru riuh – para pedagang souvenir membuka lapak dadakan – setiap ada kapal merapat, terutama kapal pesiar yang ternyata sudah rutin mampir di Banda Neira dalam perjalanannya menuju Raja Ampat.

Walau mungil dan terpencil, namun Banda Neira atau Naira tertata rapi dengan jalanan yang telah mulus beraspal dan sinyal selular pun terpancar kuat di hampir di seantero pulau. Bangunan tua dengan cat yang mengelupas dimakan usia tampak di setiap langkah. Kepulauan Banda adalah gugusan 10 pulau vulkanik di Laut Banda. Hingga pertengahan abad ke-19, kepulauan ini, terutama di Pulau Banda Besar, merupakan satu-satunya penghasil pala di dunia dan merupakan pemandangan yang biasa, sepanjang jalan di Banda Neira menjadi tempat menjemur pala, komoditas yang pernah lebih berharga dibanding emas di Eropa.

 

Instruktur Fotografi Pribadi

Setelah meletakkan bawaan di penginapan yang tak jauh dari pelabuhan, pemandu mengajak bersore di Benteng Belgica dengan berjalan kaki. Pulau Neira terletak di seberang Pulau Gunung Api, sehingga ke mana pun kaki melangkah di pulau ini, julangan Gunung Api selalu terlihat, sehingga tangan segera mengoperasikan fitur Panorama pada Lenovo VIBE Shot, yaitu dengan mengubah moda kamera dari Auto ke Pro di tombol kanan bawah.

Selain menekan ikon kamera pada layar, tombol paling bawah di ponsel dapat berfungsi sebagai tombol shutter jika ponsel sedang dalam moda kamera. Dalam keadaan kurang cahaya atau backlight pun juga akan muncul tulisan pada layar “low light” atau “backlight”, sehingga pengguna dapat mengompensasinya dengan menggunakan flash atau menambah eksposur.

2

 

Bersore di Belgica

“Nanti saja memotretnya, setelah kita tiba di Benteng Belgica yang pemandangannya lebih cantik,” ujar Iqbal, pemandu setempat yang akan menemani saya selama berada di Kepulauan Banda.

Sore itu, tampak beberapa pemuda setempat duduk-duduk sambil mengobrol di pelataran benteng yang dibangun pada 1611 oleh Pieter Both, Gubernur Jenderal VOC pertama itu. Pada pandangan pertama, Benteng Belgica tampak bagai tipikal benteng di Skotlandia. “Ayo kita ke dalam sebelum gelap,” ajak Iqbal setelah 15 menit melihat saya yang hanya fokus mengabadikan paduan antara eksterior benteng, taman bunganya yang cantik, dan lagi-lagi, julangan Gunung Api di seberang pulau.

Peninggalan sejarah yang telah masuk ke dalam daftar warisan UNESCO ini cukup terawat. Berbentuk persegi lima dan terletak di atas bukit, Benteng Belgica terdiri atas dua lapis bangunan dan untuk memasukinya, pengunjung harus menaiki anak tangga. Di bagian tengah benteng terdapat courtyard (teras di tengah bangunan) yang dikelilingi ruangan-ruangan yang konon untuk para tahanan – kini tahanan masih berada di dekat Benteng Belgica, berhubung letaknya bersebelahan dengan Lembaga Pemasyarakatan.

3

 

 

Dari Benteng ke Benteng

Sambil terus memotret dengan berbagai fitur Lenovo VIBE Shot, mulai dari Panorama, Wide Selfie di fitur Pro hingga fitur Auto menggunakan skala frama 16:9 yang wide dan cocok untuk memotret pemandangan, dengan ditemani langit senja yang sayangnya tertutup julangan Gunung Api, Iqbal bercerita tentang Benteng Nassau, benteng pertama Belanda di Banda. Pada 1621, benteng itu dijadikan tempat pembantaian 44 orang kaya Banda atas perintah Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen, sebelum membantai ribuan rakyat Banda.

Tak jauh dari Benteng Nassau terdapat Istana Mini yang dulu merupakan rumah Jan Pieterzoon Coen. Rumah megah bergaya kolonial itu kemudian dicontek modelnya untuk pembangunan Istana Merdeka di Jakarta. Seperti tipikal situs-situs wisata di Banda Neira, Istana Mini yang dikelilingi pohon-pohon besar ini pun tidak ada penjaganya, sehingga kami pun melenggang masuk.

Iqbal mendorong pintu masuk utama Istana Mini dan pintu langsung terbuka. Di dalam ruangan tampak lampu neon bercahaya terang. Sekilas memang tidak tampak menyeramkan kalau saja sebelumnya saya tidak mendengar ocehan Iqbal tentang kepala koki yang bunuh diri. Dengan langkah berat saya mengikuti Iqbal memasuki rumah megah itu. Perasaan saya tidak enak sehingga saya berhenti memotret dan hanya mendengar penjelasan Iqbal.

Istana Mini Neira menjadi satu-satunya banguan besar dan indah saat itu di kawasan ini. Di depannya terhampar pantai biru yang jernih dan Pulau Banda Besar. Di sekitar Istana Mini dibangun rumah-rumah berukuran besar sebagai tempat tinggal dari petinggi orang Eropa yang datang ke Banda. Ibaratnya berjalan kaki di Kota Banda Neira seperti menyusuri jalan-jalan di Eropa karena banyaknya bangunan beraksitektur Eropa. Hanya saja, lagi-lagi soal perawatan gedung masih perlu menjadi catatan khusus bagi pemerintah.

 

Island Hopping

Setelah menyantap sarapan nasi kuning yang disediakan penginapan, pagi itu saya diajak menuju Pulau Hatta, yang terletak sekitar 90 menit naik kapal dari Banda Neira. Pulau yang bernama asli Rozengain itu kemudian berganti nama menjadi Pulau Hatta karena Mohammad Hatta pernah diasingkan ke Banda Neira yang relatif tak jauh dari situ. Banda menjadi salah satu tempat pengasingan Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir selama 1936-1942 dan tempat ini merupakan tempat terakhir sebelum mereka kembali ke Jakarta dan menuntaskan agenda Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Pulau Pisang yang berada di kepulauan ini pun kemudian kerap dijuluki Pulau Syahrir, karena memang semasa kedua tokoh tersebut berada di Banda Neir.

Setengah hari itu saya menghabiskan waktu di Pulau Hatta dan dalam perjalanan ke Banda Neira, Iqbal mengajak untuk mampir Pulau Banda Besar, pusat perkebunan pala di Kepulauan Banda. Disebut juga Pulau Lonthoir, pulau ini merupakan yang terbesar di Kepulauan Banda. Dari sini, tepatnya dari Benteng Hollandia yang ada di puncak bukit di Desa Lonthoir, adalah salah satu tempat terbaik untuk menikmati pemandangan Pulau Gunung Api. Untuk menuju ke sini, dari pelabuhan di Banda Besar masih harus berjalan kaki sekitar 20 menit menuju ke puncak bukit dengan melewati perkebunan pala dan kenari, serta area pekuburan. Namun tentu saja perjalanan tidak terasa lama karena banya objek yang dapat diabadikan dengan fitur kamera pada Lenovo VIBE Shot.

6

Rhun yang Ditukar

Keesokan harinya perjalanan menjelajahi pulau-pulau di Kepulauan Banda masih berlanjut. Kali ini adalah menuju ke gugusan pulau yang berada di barat Pulau Neira, yaitu Pulau Ai, Nailaka, dan Rhun.

“Selamat datang di Manhattan,” begitu sapa salah seorang pemilik guesthouse di Rhun yang berandanya saya tumpangi untuk duduk-duduk menikmati angin pantai.

Pulau Rhun yang ditumbuhi banyak pohon pala dan ketika itu dikuasai Inggris, oleh VOC dibujuk untuk meninggalkan Rhun dan menukarnya dengan Pulau Manhattan di New York lewat penandatanganan Treaty of Breda. Inggris bersedia dan sejak itu VOC menguasai perdagangan pala di dunia. Kini Pulau Rhun termasuk salah satu pulau dengan desa terpadat di Kepulauan Banda Neira. Sebelum kapal merapat kembali di belakang penginapan di Banda Neira, Iqbal mengajak saya snorkeling di sebuah situs bernama Lava Flow. Sesuai namanya, tempat ini adalah area perairan yang dialiri lava ketika Gunung Api meletus. Karena abu vulkanik yang subur, maka karang di sini pun melimpah dan dalam keadaan sehat. Di sekitar karang yang sehat, tentu saja banyak ikan yang merubung sehingga snorkeling maupun scuba diving di sini sangatlah menyenangkan.

 

Teks dan foto: Fransiska Anggraini

Selengkapnya dapat dibaca di majalah Panorama edisi November-Desember 2015