Bertemu Bintang di Xin Tian Di

April 9th, 2018 / / Comments Off on Bertemu Bintang di Xin Tian Di
Posted in On the Road

Xin Tian Di menawarkan contoh pemanfaatan kawasan bersejarah yang patut diacungi jempol. Kekunoannya tak seketika membuatnya ketinggalan zaman, karena manusia modern justru menjadikannya “sanctuary” dari rutinitas kesibukan.

Setelah trekking di Gunung Huangshan, sebelum kembali ke Indonesia, kami sengaja mengalokasikan tiga hari untuk bermalas-malasan di Shanghai, kota yang namanya digunakan dalam bahasa Inggris untuk kata sifat yang merujuk pada aksi menjebak seseorang untuk melakukan sesuatu. Konon pada 1854, pemilik kapal asal Inggris merekrut kru untuk berlayar ke Shanghai dengan memberikan obat pada minuman pada beberapa orang sehingga mereka tidak sadarkan diri. Begitu sadar, mereka sudah di tengah laut dan mau tak mau harus membantu pekerjaan di kapal agar tetap dapat hidup (minimal diberi makan). Kosa kata ini kemudian berkembang, seiring perkembangan Shanghai sebagai kota bisnis, di mana para pebisnisnya memang dikenal lihai dan cerdik berstrategi.

Karena hal ini pulalah, warga Shanghai kemudian banyak yang merasa lebih modern dan menganggap warga Beijing maupun kawasan lain di Tiongkok utara yang rata-rata petani tidak semaju mereka pemikirannya. Misalnya saja, ketika masyarakat dunia menuding warga Tiongkok mainland jorok, warga Shanghai membela diri habis-habisan, kalau itu pasti bukan warga Shanghai. Saya ingat pernah membaca sebuah artikel yang kira-kira isinya seperti ini, “They smell like garlic,” said restaurateur Xu. “We, Shanghai people, keep ourselves and our homes very clean. We are more refined. We drink coffee. They only drink tea.”

Memang banyak kedai kopi di Shanghai. Makanya setelah makan siang dengan menu xia long bao yang memang berasal dari Shanghai, kami pun mendapatkan dorongan yang besar untuk meneguk kafein di salah satu kedai kopi di Xin Tian Di. Rencana awalnya untuk minum kopi, namun karena banyak juga bar, kami pun kemudian tergoda untuk menyesap cocktail.

Shikumen, Pengubah Gaya Hidup

Xin Tian Di berada di sisi selatan Middle Huaihai Road. Yang membuat unik kawasan pusat kota ini adalah karena masih banyaknya shikumen, yang secara harfiah dalam bahasa Mandarin berarti gerbang batu, karena rangka pintu rumah-rumah khas Shanghai ini terbuat dari batu, di mana gaya ini terinspirasi dari arsitektur Tiongkok Selatan dan rumah-rumah di negara-negara Barat. Bila di Beijing ada hutong, maka di Shanghai ada shikumen.

Shikumen pertama kali dibangun sekitar 1870-an, ketika para pemberontak Taiping melawan Dinasti Qing, sehingga pengembang setempat yang mencium peluang ini kemudian membuat rumah batu yang kokoh bagi para orang-orang kaya yang ingin melindungi harta mereka semasa perang. Terdiri dua lantai yang konstruksinya terbuat dari kayu dan batu bata, shikumen pertama dibangun di East Beijing Road, Fuzhou Road, dan Middle Henan Road.

Arsitektur shikumen kemudian mengubah gaya hidup tradisional masyarakat Shanghai, di mana sebelumnya keluarga besar hidup di satu rumah, dengan ukuran shikumen yang kecil, maka yang dapat tinggal di satu rumah pun terbatas. Namun, karena shikumen terhubung dengan gang-gang yang rumit untuk bersembunyi semasa perang, maka kelurga besar tetap dapat tinggal berdekatan di satu kompleks. Karena tidak perlu lagi tinggal satu rumah dengan keluarga besar, warga jadi lebih menjunjung tinggi individualisme dan lebih berani berekspresi, sehingga hal ini kemudia berpengaruh pada pandangan politik, ekonomi, selain berkembangnya sastra dan seni. Hingga kini, sekitar dua juta warga masih tinggal di shikumen di kawasan Xin Tian Di, Tianzifang, dan Jian Ye Li.

Karena masih kenyang, sambil mencari-cari kedai kopi atau bar yang ingin disinggahi, kami pun berjalan keluar-masuk gang di Xin Tian Di. Walau merupakan kawasan yang tua, namun aura fashionable-nya menguar di setiap sudut yang kami lalui. Kawasan ini sengaja mempertahankan dinding, keramik, dan eksterior shikumen, namun begitu memasuki salah satu rumah untuk dijadikan galeri, bar, kafe, butik, atau restoran, pemiliknya bebas mengusung konsep yang diinginkan (rata-rata memilih konsep yang modern agar kontras dengan eksteriornya).

Xin Tian Di terbagi menjadi dua bagian, yaitu Blok Selatan dan Blok Utara. Blok Selatan didominasi bangunan modern dengan hanya sedikit shikumen, sementara Blok Utara hampir semuanya merupakan shikumen. Selain restoran dari mancanegara (banyak restoran upscale di Blok Utara milik pesohor setempat), Xin Tian Di juga dipadati toko mungil yang unik, dan bahkan bioskop serta pusat kebugaran. Saking beragamnya pilihan makanan etnik di sini, Xin Tian Di menjelma bagai desa internasional dan kadang sulit dipercaya lokasinya berada di Tiongkok daratan yang masyarakatnya jauh dari kesan internasional.

Di antara kedua blok, tepatnya di Xingye Road, terdapat sebuah shikumen bersejarah tempat diadakannya kongres pertama Partai Komunis Tiongkok pada 1921 yang kini difungsikan sebagai museum yang memuat sejarah Tiongkok, sejarah Shanghai, dan pembentukan partai komunis di Tiongkok.

Sayang, siang itu kami sedang tidak mood untuk memasuki museum, sehingga hanya melewatinya saja. Kami masih ingin mencari tempat yang enak untuk duduk-duduk melewatkan sore. Misi itu pun nyaris gagal karena setiap lima menit kami memasuki toko-toko di Blok Selatan. Sambil memilih-milih kartu pos bergambar wanita-wanita Shanghai yang mengenakan cheongsam, kami berbincang dengan seorang pramuniaga yang lancar berbahasa Inggris dengan aksen Amerika. Kalau kami boleh menebak, sepertinya ia pernah tinggal di Amerika Serikat. Darinya kami mendapatkan beberapa rekomendasi tempat nongkrong di Xin Tian Di.

“Saya tidak tahu kalian suka atau tidak, tapi banyak yang menyukai dr Bar di Blok Utara. Tempatnya kecil dan tersembunyi di gang yang mungkin sering dilewatkan orang, namun saya bisa jamin, tempat itu menyediakan martini terbaik di Shanghai. Tempatnya juga sepi, jadi tetap dapat mengobrol dengan nyaman,” begitu ujarnya dan kami langsung tertarik dengan kata kunci “sepi”, karena kami sebenarnya kurang suka berada di tengah keramaian. Terlebih bila untuk masuk saja harus mendaftarkan nama terlebih dahulu ke staf yang berjaga di pintu masuk.

* Baca selengkapnya di majalah Panorama edisi April – Mei 2018. 
Teks: Maria Magdalena