Berbagai Hal Unik di Kota Bertaburkan Cahaya (Bagian 2)

September 3rd, 2019 / / Comments Off on Berbagai Hal Unik di Kota Bertaburkan Cahaya (Bagian 2)
Posted in On the Road

Diromantisasi dalam beragam film bertema percintaan, selama puluhan tahun Paris menggenggam predikat sebagai kota yang romantis. Mungkin juga karena kota ini berjuluk Kota Cahaya yang membuat siapa pun yang melewatkan waktu di malam hari di sini langsung terpikat dan tanpa sadar pikiran melayang kepada orang-orang tercinta. Namun bukan tempat-tempat seperti itu yang ingin kami hadirkan kali ini karena kami ingin Anda melihat sisi Paris yang nyeleneh untuk meninggalkan kesan yang lain.

Beberapa tempat berikut telah dipopulerkan oleh film-film ternama, namun sebagian lainnya berada di kawasan ternama namun sering terlewatkan. Mengunjungi tempat-tempat berikut tak hanya  memberikan gambaran tentang masyarakat Paris yang berpikiran terbuka (terbuka akan ide-ide baru), namun juga menegaskan posisinya sebagai kota seni karena di sini, seni tak melulu tersaji di museum atau galeri megah. Di sela-sela perjalanan dinas, sempatkan mampir ke beberapa tempat berikut dan dijamin, anggapan Anda tentang Paris tak akan sama lagi.

Museum of Vampires and Legendary Creatures

Museum ini menampilkan koleksi pribadi Jacques Sirgent, seorang ahli makhluk gaib. Berada di Les Lilas, tempat ini sengaja dibuat seperti makam yang mencekam. Kelelawar dan potongan bagian tubuh manusia terpasang di pohon untuk menakuti-nakuti pengunjung. Jacques Sirgent sebenarnya membuka museum ini untuk membagikan penelitiannya tentang vampir, kepercayaan mistik, dan cerita rakyat kuno. Sepanjang perjalanan karirnya mengumpulkan, menerjemahkan teks dan informasi tentang demonologi, Sirgent kemudian menjadi seorang pencerita yang handal. Sambil duduk di sofa berwarna merah, pengunjung akan dibuat terkesima dengan kisah-kisah berbagai kuburan di Paris yang di masa lalu kerap mempraktikkan ritual-ritual vampir. Museum dipenuhi dengan beragam koleksi yang berhubungan dengan vampire, mulai dari seperangkat alat pembunuh vampire, film-film bertema vampire, mainan Dracula, hingga buku-buku kuno yang dapat berubah menjadi debu jika disentuh.

Rue Crémieux

Merupakan salah satu are berjalan batu yang Instagramable di Paris, letaknya tersembunyi di 12th arrondissement, tepatnya antara Rue de Lyon dan Rue de Bercy. Namun itu dulu karena kini Rue Crémieux merupakan lokasi incaran para fotografer fesyen, pembuat film, dan tentu saja, wisatawan yang ingin mempercantik feed Instagram mereka. Kawasan perumahan ini memang sangat tidak Paris karena wajahnya lebih mirip kawasan Notting Hill di London atau Burano di Venesia dengan rumah berfasad warna-warni. Jalan di sini memang pendek, namun banyak objek yang menarik untuk difoto, sehingga kemudian warga jadi agak jengah.

Bila ke sini, jangan langsung memotret, namun amati dulu keadaan supaya warga tidak terganggu. Warga kemudian meminta dewan kota untuk membatasi pengunjung dan menjaga privasi dengan membangun gerbang yang akan ditutup dan hanya dapat diakses warga atau para tamu warga. Nama jalan ini sendiri diambil dari seorang pengacara, Adolphe Crémieux, yang membela hak-hak warga Yahudi di Paris.

Apartemen Rahasia Gustave Eiffel

Ketika Menara Eiffel Tower diresmikan pada 1889, arsiteknya, Gustave Eiffel memang dipuja-puji. Diam-diam, ia pun membangun apartemen mungil di dekat puncak menara – sekitar 300 meter di atas permukaan laut – sebagai penghargaan terhadap dirinya sendiri. Berada di level ketiga menara, walau hanya kecil, namun apartemen Eiffel ini sangatlah nyaman. Dikelilingi kerta dinding berwarna hangat dan gorden halus bermotif bunga untuk mengontraskan dengan konstruksi besi yang “dingin” di sekitarnya, perabotan yang ada di sini, antara lain rak kayu dan grand piano.

Ketika mengetahui tentang apartemen mungil ini, komunitas elit Paris pun iri dan Eiffel kerap ditawari sejumlah uang yang menggiurkan untuk menyewakan apartemennya itu. Tentu saja, tawaran itu ditolak karena ruang pribadinya itu adalah tempatnya untuk merenung dan sesekali mengajak para terhormat, seperti Thomas Edison, yang memberinya hadiah berupa mesin fonograf. Kini, apartemen itu dapat diintip oleh pengunjung yang membeli tiket ke puncak menara. Kondisi interiornya tetap dipertahankan seperti masih dihuni Eiffel, hanya saja kini di dalam apartemen tersebut ditambahkan manekin mirip Eiffel dan Edison.