WWF Dukung Responsible Tourism di Taman Nasional Komodo

April 9th, 2015 / / Comments Off on WWF Dukung Responsible Tourism di Taman Nasional Komodo
Posted in Newsflash

 

Pariwisata Indonesia, termasuk wisata bahari sedang berkembang pesat dan menjadi destinasi utama wisatawan domestik maupun mancanegara. Bagai dua sisi mata uang, ini merupakan peluang ekonomi sekaligus tantangan ekologis. Pariwisata yang bertanggung jawab (responsible tourism) adalah pendekatan pengelolaan pariwisata untuk meminimalisir dampak lingkungan dari kegiatan di sektor ini untuk bisa menjaga kelestarian sumber daya alam.

Mendorong penerapan responsible tourism, WWF-Indonesia memberikan bantuan berupa alat pengolah sampah rumah tangga kepada Unit Bisnis Kelola Sampah – Koperasi Serba Usaha Komodo sebagai perwujudan dari donasi supporter lembaga tersebut. Penyerahan bantuan berupa motor pengangkut, mesin pencacah, mesin press sampah, dan mesin jahit plastik ini dilakukan oleh CEO WWF-Indonesia Dr. Efransjah yang diterima oleh Bupati Manggarai Barat Agustinus Ch Dulla dan kemudian diserahkan pada Ketua Unit Bisnis Kelola Sampah, Adrianus Daru pada saat acara “Peresmian Koperasi Sampah Komodo” yang berlangsung di Desa Batu Cermin, Labuan Bajo, Selasa (7/4).

“Taman Nasional Komodo merupakan salah satu destinasi pariwisata yang dikenal di dunia. Salah satu akibatnya adalah meningkatnya jejak ekologis, dalam hal ini sampah, yang sebagian besar berjenis plastik dan memiliki potensi dampak terhadap kelestarian lingkungan di kawasan Taman Nasional Komodo serta kualitas hidup masyarakat secara luas. WWF juga mendukung inisiatif Unit Bisnis Kelola Sampah ini sebagai sebuah learning center agar para anggota komunitas dapat saling belajar untuk mengurangi sampah, mengambil nilai ekonomisnya, mendaur ulang sampah hingga nilainya menjadi lebih baik, serta mengajak pihak lain ikut serta dalam proses ini,” ungkap Dr. Efransjah.

Foto: WWF-Indonesia

Foto: WWF-Indonesia

Peralatan pengolah sampah yang disalurkan ini bertujuan untuk menciptakan daya tarik wisata melalui produk kreatif bernilai ekonomis yang dihasilkan dari daur ulang sampah. Volume sampah yang meningkat karena aktivitas pariwisata di wilayah tersebut dapat membawa dampak pencemaran air bersih dan laut. Tidak hanya mencemari lingkungan, sampah rumah tangga yang tidak tertangani nantinya akan menurunkan daya tarik wisata alam yang menjadi salah satu tumpuan aktivitas perekonomian masyarakat.

Data Kementerian Pariwisata menunjukkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Taman Nasional Komodo meningkat sebesar 9,42 persen pada tahun 2013 (45.776 wisatawan asing) dibanding tahun 2011 (41.833 wisatawan asing). “Pengelolaan sampah memiliki banyak tantangan dan membutuhkan dukungan banyak pihak. Labuan Bajo adalah wilayah populer di mata dunia, karenanya memerlukan perhatian khusus dalam penataan wilayahnya. Saya mengapresiasi WWF-Indonesia yang memberikan perhatian pada aspek jejak ekologis, khususnya dengan langkah mengajak masyarakat Manggarai Barat untuk peduli terhadap pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan. Unit Bisnis Kelola Sampah juga menjadi solusi bagi keterbatasan tempat pembuangan sampah akhir yang tidak cukup tersedia di Manggarai Barat,” ujar Agustinus Ch Dulla.

Aktivitas pariwisata yang tidak dikelola secara bertanggung jawab dapat menimbulkan dampak penurunan kualitas lingkungan. Ini sebabnya WWF-Indonesia mendorong industri pariwisata untuk mulai mengadopsi praktik pariwisata yang bertanggung jawab. Selain kegiatan yang berlangsung kemarin, WWF-Indonesia menginisiasi program Tourism Energy Efficiency Investment Program (TEEIP), yang mengajak industri perhotelan di Provinsi Bali untuk berpartisipasi dalam upaya penghematan energi dalam menjalankan usahanya. (Baca juga: Efisiensi Energi Jadi Bagian Dari Pengembangan Pariwisata) Program yang berlangsung selama dua tahun ini, dilaksanakan dengan melibatkan bersama beberapa mitra kerja yaitu Kementerian Pariwisata; Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN); dan kalangan industri perhotelan.