Tren Kunjungan Jangka Panjang ke Eropa Semakin Diminati

September 12th, 2018 / / Comments Off on Tren Kunjungan Jangka Panjang ke Eropa Semakin Diminati
Posted in Newsflash

Hasil terbaru dari Barometer Lalu Lintas Udara yang diproduksi European Cities Marketing and ForwardKeys, menyoroti bahwa pertumbuhan yang baik dari jumlah kunjungan jangka panjang ke Eropa menyeimbangkan penurunan kunjungan intra-Eropa. Kecenderungan ini akan terus berlanjut seiring dengan pemesanan ke depan untuk kuartal ketiga 2018.

Kunjungan wisatawan yang memilih berlibur untuk jangka waktu yang panjang di Eropa meningkat 8,4 persen di kuartal kedua 2018 dibandingkan dengan kuartal kedua 2017, dengan Asia dan Oceania, Afrika, dan Amerika Tengah dan Selatan mempertahankan tingkat pertumbuhan yang sehat di atas 10 persen. Namun, perjalanan intra-Eropa menunjukkan kinerja yang buruk dengan penurunan sebesar 4,1 persen. Ini menghasilkan pertumbuhan moderat 1,5 persen dalam total kedatangan internasional di Eropa selama kuartal kedua.

Profil Pejalan dan Destinasi yang Dituju

Melihat perkembangan yang ada, dapat diamati bahwa jenis pejalan yang berkunjung untuk waktu lama biasanya adalah mereka yang memilih untuk liburan santai, rekreasi bersama keluarga dengan jumlah anggota 3-6 orang dan masa tinggal antara 6-21 hari, atau dapat lebih lama lagi hingga 120 hari. Dengan waktu liburan yang panjang sebenarnya ada banyak destinasi yang bisa dituju, namun London dan Paris masih menjadi favorit, nama lain seperti Roma masih masuk dalam pilihan dan mengalami peningkatan popularitas, berbeda dengan Istanbul yang kurang diminati kuartal ini.

Komparasi dengan kuartal pertama 2018, terlihat jumlah kunjungan jangka panjang ke Istanbul berjalan lambat, walau begitu, destinasi ini masih menjadi yang terdepan dalam hal besarnya jumlah pengunjung yang meningkat hingga 37,2 persen, diikuti oleh Tallinn di Finlandia dengan kenaikan 30,3 persen dan Dubrovnik di Kroasia yang meningkat 27,9 persen pada kuartal kedua 2018. Selain kota-kota populer ini, Swiss dengan Zurich dan Jenewa masuk dalam daftar destinasi yang dituju. Efek dari depresi mata uang franc Swiss, menjadikan negara ini sebagai destinasi yang terjangkau dan diperkirakan akan terus berkembang.