Taiwan Mantap Tawarkan Destinasi Kuliner

July 26th, 2018 / / Comments Off on Taiwan Mantap Tawarkan Destinasi Kuliner
Posted in Newsflash

Akar kuliner Taiwan begitu beragam, di mana hal ini dipengaruhi letak geografisnya yang berada di antara Tiongkok, Jepang, dan mendapat sedikit pengaruh Barat. Hal ini juga didukung kondisi alam pegunungan dan iklim sub tropis, menjadikan negara ini sebagai lahan subur untuk menghasilkan produk-produk makanan terbaik dan segar. Dengan segala kelebihannya, pantaslah jika negara ini sebagai destinasi kuliner, di mana kota Taipei menjadi sentra kuliner yang menarik dengan jajanan pinggir jalan di pasar malam yang marak dengan lentera warna-warni dan uap panas sajian hot pots yang sedang dihidangkan ke pengunjung.

Pemburu kuliner dengan mudah menemukan beef noodle soup yang menjadi opsi favorit warga lokal, braised pork rice yang merupakan kesukaan para turis karena harganya terjangkau, hingga oyster omelette yang menarik diintip proses pembuatannya. Tak hanya mengandalkan eksotisme jajanan pinggir jalan, kuliner di Taiwan juga semakin menunjukkan kelasnya dengan kehadiran restoran-restoran terbaik yang telah mendapat pengakuan dari para inspektur pemberi bintang Michelin.

Michelin adalah buku panduan bersampul merah yang setiap tahun merilis daftar restoran yang layak dianugerahi bintang Michelin. Ada empat macam bintang yang diberi, yaitu 3 bintang, 2 bintang, 1 bintang, dan Bib Gourmand (restoran di bawah kelas bintang tapi kalah berkualitas). Mendapatkan bintang Michelin layaknya mendapatkan medali di olimpiade atau Pulitzer bagi penulis. Tahun ini terpilih 20 restoran yang diberi bintang Michelin, di mana restoran Le Palais meraih penghargaan tertinggi dengan tiga bintang Michelin, sedangkan Shoun RyuGin yang bertema Jepang dan The Guest House yang khas dengan sajian Tiongkok mendapatkan bintang dua. Sisa 17 restoran lainnya meraih bintang satu, yaitu Da Wan, Danny’s Steakhouse, Golden Formosa, Ken An HoKitcho, L’ Atelier de Jöel Robuchon, La Cocotte by Fabien Vergé, Longtail, Ming Fu, MUME, RAW, Sushi Nomura, Sushi Ryu, Taïrroir, Three Coins, Tien Hsiang Lo, dan Ya Ge.

Sosok Di Balik Bintang Tiga Michelin La Palais

Le Palais, restoran yang bertema makanan Kanton yang berlokasi di Hotel Palais de Chine dan sudah beroperasi selama tujuh tahun terakhir yang populer di kalangan konsumen lokal. Chef Ken Chen selaku Chef Eksekutif Le Palais menyatakan, “Ini merupakan hari bahagia bagi tim kami meraih penghargaan ini. Tim kami akan berusaha lebih keras lagi untuk memberikan yang lebih baik lagi.” Chef Chen yang pindah dari Makau ke Taiwan hampir 20 tahun lalu ini memiliki keunggulan di sajian makanan Kanton. Sejak usia 12 tahun, dirinya sudah terlibat di dapur restoran Jumbo Kingdom di Hong Kong dan pada usia 19 tahun sudah menjadi kepala koki untuk restoran vegetarian.

Memasak adalah DNA bagi Ken yang sudah menimba pengalaman sebagai juru masak dari restoran My Humble House di Hotel Le Meridien Taipei hingga ke Chen Garden di Sheraton Grand Taipei, baru pada 2010 ia berkarir di Le Palais di Hotel Palais de Chine.  Sempat terpilih sebagai salah satu dari Top 10 Chef Terbaik di Taipei, Ken mengaku kerap mendapat inpirasi memasak yang tak biasa, yang  terkadang sulit untuk diterima di ranah kuliner, namun justru di situlah letak keunikan dan kehebatannya sebagai seorang koki. Contohnya seperti menu khas Le Palais, Kung Pai Frog Stomach yang digorengnya dengan konsistensi tinggi, membuatnya bertekstur kenyal atau seperti daging babi yang digoreng menggunakan saus XO yang harum.

Disematkan tiga bintang Michelin, Le Paleis menerima para tamunya melalui ruang makan yang mewah, terkesan modern juga chic, namun tak meninggalkan unsur tradisional melalui seni keramik, kaligrafi, dan lukisan. Dari segi makanan, menu bebek panggang ala Cantonese, hidangan tahu dan kue tar telur yang betul-betul mengesankan, didukung pelayanan yang bersahabat dan ramah bagi setiap tamu.

Serupa Tapi Tak Sama

Walau masih merupakan sister company dari restoran Nihonryori RyuGin di Tokyo, peraih bintang tiga Michelin, Shoun RyuGin Taipei menghadirkan masakan Jepang modern yang kreatif, dengan penggunaan bahan-bahan terbaik dari luar pulau, serta membawa gastronomi Taiwan ke level yang lebih lagi, seperti wine pairings dengan tujuh hingga 10 menu. Masih ada yang menyandingkan Nihonryori RyuGin dengan Shoun RyuGin, hal ini wajar karena keduanya sama-sama menggunakan menggunakan filosofi Chef Seiji Yamamoto mengenai penggunaan bahan-bahan musiman yang dipadu produk lokal dan didukung prinsip mengolah makanan dengan berbagai metode memasak.

Enam bulan sebelum pembukaan Shoun RyuGin, koki Ryohei Hieda sempat mengalami sedikit kendala mengenai kualitas dan harga bahan pangan di Taiwan yang tidak stabil. Tak mau terlalu lama berkubang dalam persoalan itu, ia memutuskan mencari bahan-bahan terbaik di Taiwan dan berhenti membuat perbandingan. Ia mulai meneliti berbagai produk Taiwan, seperti melakukan pencarian bahan di Pasar Bin Jiang, termasuk mengunjungi daerah Tainan, Hualian, dan Nantou untuk berbicara langsung dengan petani lokal dan mengembangkan hubungan kerja sama walaupun terhambat masalah bahasa.

Chef Ryohei Hieda adalah juru kunci Shoun RyuGin Taipei yang tahun ini mendapatkan bintang dua Michelin. Bahan-bahan makanan yang familiar di ranah kuliner Taiwan, seperti daun ubi jalar, daun kemangi, daun krisan, kerang, ubi manis, bisa diubah koki Hieda menjadi sajian yang tampak sederhana tapi elegan. Setelah sempat bekerja di luar lingkungan dapur, koki Hieda menemukan panggilan hidup setelah diberi saran sang nenek untuk memikirkan kembali apa yang menjadi tujuan dan kebahagiaan hidupnya, saat itulah ia menyadari memiliki perasaan menyenangkan ketika bisa memasak bagi orang tuanya. Itulah yang menjadi titik  balik dirinya untuk mulai mengembangkan kemampuannya di dunia kuliner. Di usia 19 tahun ia bergabung dengan Kappou Nakagawa yang populer di Gion, lima tahun kemudian ia mempelajari membuat garam dan menggunakannya sebagai salah satu bahan penting di masakan. Di usia 27 tahun ia diterima di RyuGin dan menerima pelatihan langsung dari koki utama, Seiji Yamamoto sebelum dipindahkan ke Shoun RyuGin.

Kuliner Halal di Taiwan

Walaupun didominasi makanan non halal, namun Taiwan kini mulai mengembangkan diri dengan memfasilitasi kebutuhan wisatawan muslim yang bertandang ke negaranya. Dimulai dengan pendirian Taiwan Halal Center yang diprakarsai Kementrian Urusan Ekonomi dan dioperasikan oleh TAITRA, organisasi yang mempromosikan wisata ramah bagi turis Muslim dan mengembangkan komunitas Muslim di Taiwan. Menurut Presiden dan CEO TAITRA, Walter Yeh, saat ini tercatat sudah terdapat 100 sertifikat halal yang dimiliki hotel dan restoran di Taiwan, termasuk sekitar 400 perusahaan yang mengekspor makanan bersertifikat halal setiap harinya. Sebagai pejalan, perlu diketahui bahwa cukup mudah untuk menemukan makanan non halal di Taiwan, dalam artian makanan tidak mengandung daging dan minyak babi, namun sebagian restoran belum menyertakan sertifikat halal untuk membuktikan keabsahannya.

Daftar restoran di Taipei yang bersertifikat halal:

-Mayur’s Indian Kitchen (No. 38, Section 1, Jalan Xinsheng North)

-Safranbolu Turkish Restaurant (104, Taiwan, dekat Stasiun Songjiang Nanjing)

-Chang’s Beef Noodle Soup (21, Yen-Ping S. Rd)

– Ding Xian 101 (110, Taiwan, Taipei City, Xinyi District, Section 5, Jalan Xinyi)

-(Ai-Jia) Muslim Beef Noodles Restaurant (41, Alley 223, Zhongxiao East Road, Section 4, Taipei city, Taiwan 106)

Untuk melihat daftar restoran halal lainnya, dapat mengunjungi Taiwan Halal.