Polaroid, Di Persimpangan Seni dan Teknologi

January 12th, 2019 / / Comments Off on Polaroid, Di Persimpangan Seni dan Teknologi
Posted in Newsflash

Pada 26 November 1948, kamera instan pertama diluncurkan Polaroid Corporation di bawah pimpinan Edwin Land.  Di hari itu, 56 unit 95 Land Camera ludes terjual – melebihi ekspektasi siapa pun. Walau kamera instan tersebut hasil inovasi Land, namun sang pencetus ide adalah putrinya, yang pada suatu liburan keluarga mempertanyakan mengapa ia tak bisa langsung melihat foto yang baru diambil. Fotografi memang ketika itu identik dengan dunia maskulin, namun pada 1954, setelah kesuksesan 95 Land Camera, Polaroid memperkenalkan model baru kamera instan bernama 80 Highlander yang ditargetkan bagi para wanita.

Informasi tersebut dapat diketahui dari pameran menarik bertajuk In an Instant: Polaroid at the Intersection of Art and Technology diMuseum Nasional Singapura yang berlangsung hingga 31 Maret 2019. Seni dan teknologi memang dua hal  sekaligus yang ditawarkan kamera instan, karena dalam masa-masa penyempurnaannya, Land meminta fotografer landskap terkenal Ansel Adams untuk memberikan masukan yang berguna. Sejak itu banyak seniman pun memanfaatkan hasil foto Polaroid yang instan sebagai medium berkarya.

Alur Runtut

Hasil kolaborasi Foundation for the Exhibition of Photography (FEP), Minneapolis/New York/Paris/Lausanne bersama MIT Museum, Massachusetts dan WestLicht Museum for Photography, Wina ini menyajikan ragam karya yang dihasilkan menggunakan kamera Polaroid sekaligus berbagai pengaruh yang dibawa oleh keberadaan kamera instan terhadap fenomena sosial di era digital ini.

Setelah dipamerkan di sejumlah kota di dunia, pameran ini akan berakhir di MIT Museum yang terletak hanya beberapa blok dari tempat kamera instan pertama dilahirkan. Terdapat 220 foto Polaroid karya 120 seniman, termasuk Ansel Adams, Chuck Close, Barbara Crane, Harold Edgerton, Walker Evans, Hans Hansen, David Hockney, Dennis Hopper, Robert Mapplethorpe, Robert Rauschenberg, Andy Warhol, dan William Wegman. 

Dengan alur cerita yang runtut, begitu memasuki ruang pameran, pengunjung disambut informasi seputar perkembangan teknologi kamera instan melalui sekitar 75 artefak berupa kamera, prototipe, film-film eksperimental, dan materi teknis lain yang dipinjam dari koleksi MIT Museum dan beragam institusi. Kamera Polaroid ikonik yang tercatat paling laku sepanjang sejarah, yaitu SX-70, yang dijuluki kamera ajaib karena merupakan kamera instan pertama yang menggunakan single lens reflex (SLR) juga dihadirkan dalam pameran ini, selain tipe Big Shot yang populer pada awal 1970-an di kalangan fotografer ternama, seperti Andy Warhol.  

Di area ini juga terdapat bilik pemutaran film pendek berjudul The Fishbowl yang menceritakan kiprah Land ketika menjual penemuan filter polarisasinya kepada American Optical Board di 1934. Sebelum menemukan kamera instan, sejak 1920-an ia telah melakukan serangkaian riset terhadap cahaya polarisasi yang berujung pada penemuan filter polarisasi pada 1929 yang dinamainya Polaroid (kependekan dari polarising celluloid) untuk mengurangi sinar yang terlalu keras. Tak hanya berguna dalam fotografi, Polaroid juga kemudian banyak dimanfaatkan dalam bidang ilmiah maupun kehidupan sehari-hari. Kacamata hitam Polaroid pertama diluncurkan pada 1935, dan selanjutnya, di era modern ini Polaroid pun menjadi bagian penting dalam pembuatan animasi tiga dimensi, kacamata tiga dimensi, kaca film, dan masih banyak lagi.

Pengunjung pun akan dengan mudah menemukan benang merah konsep menciptakan dan membagikan momen secara instan yang telah berevolusi, selain secara aktif mengajak pengunjung untuk merenungkan bagaimana media sosial saat ini ternyata menduplikasi pengalaman menggunakan kamera Polaroid di masa lalu.

Yang Jadi Sorotan

Karya-karya yang menjadi sorotan, antara lain enam foto seri Andy Warhol yang dicetak hitam putih karya Oliviero Toscani dan Barbara Crane yang mengabadikan pemandangan pantai-pantai dan berbagai festival musim panas di Chicago untuk menampilkan suasana kota yang multikultur. Pengaturan karya-karya yang ditampilkan pun komprehensif, yaitu berawal dari karya-karya sederhana yang semakin jauh melangkah ke ruang eksebisi, karya-karya yang ditampilkan pun semakin rumit, penuh simbol-simbol, dan beberapa di antaranya pun ditata bak instalasi.

Menariknya, pameran pun menyajikan dampak kemajuan teknologi kamera digital yang mendorong berjayanya berbagai platform media sosial saat ini, sehingga sebagian orang pun kini memiliki profesi atau unit bisnis yang tak pernah terbayangkan sebelumnya – mulai dari influencer (atau disebut juga key opinion leader), Youtuber, blogger, hingga pembuat meme atau video parodi. Sosok-sosok yang setara selebriti ini menjadi terkenal dan berpengaruh karena berbagai konten yang mereka sajikan dan bahkan berhasil mengubah keadaan maupun pandangan masyarakat di sekitar mereka.

Pameran ini ditutup dengan kisah enam sosok influencer Singapura dari berbagai bidang yang berbeda membagikan perjalanan mereka di media sosial. Ada Preetipls yang terkenal berkat kiprahnya dalam menginspirasi citra tubuh wanita yang positif, pendiri SGAG Karl Mak yang spesialis membuat meme humor tentang berbagai isu sosial di Singapura, YouTuber Jianhao Tan yang mengulas berbagai aktivitas gaya hidup di Singapura, Jamie Chua yang terkenal di Instagram berkat foto-foto perjalanannya yang indah dan mengelaborasikan fashion, kakak-beradik Yafig dan Yais Yusman yang spesialis berpose di sudut-sudut Singapura yang sering terlewatkan karena dinilai kurang menarik, dan pasangan suami istri David dan Angie Sim yang mengelola blog pemenang penghargaan Life’s Tiny Miracles berisi tulisan-tulisan inspiratif tentang kehidupan sebagai penyintas kanker dalam membesarkan anak-anak.

Sesaat sebelum melangkah keluar ruang eksebisi, pengunjung pun diajak berpartisipasi untuk membagikan definisikan arti kata “instan” bagi mereka untuk diunggap ke media sosial dengan serangkaian tagar.  Di luar eksibisi, terdapat photo booth dan fasilitas selfie sebagai penutup pengalaman mengenal fotografi Polaroid dengan lebih mendalam. Untuk memeriahkan pameran ini, pihak museum pun mengadakan serangkaian bincang-bincang bersama fotografer dan kolektor kamera; workshop fotografi dan berbagai proses fotografi alternatif; dan tur yang dipandu kurator eksibisi. (nationalmuseum.sg)