Mengintip Dunia Abad Pertengahan dari Kacamata Ibnu Batutah

September 10th, 2018 / / Comments Off on Mengintip Dunia Abad Pertengahan dari Kacamata Ibnu Batutah
Posted in Newsflash

Muhammad bin Batutah atau akrab disapa Ibnu Batutah merupakan seorang cendekiawan yang pernah menjelajah berbagai pelosok dunia di era Abad Pertengahan. 30 tahun adalah waktu yang dibutuhkannya untuk mengeksplorasi area penyebaran ajaran Islam, termasuk juga mendatangi daerah-daerah non-Muslim, seperti Afrika Utara, Afrika Barat, Timur Tengah, Asia Tengah, Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Tiongkok. Perjalanan yang dilakukannya seorang diri tersebut ia ceritakan melalui buku A Gift to Those Who Contemplate the Wonders of Cities and the Marvels of Travelling sebelum kematiannya pada 1369, di mana buku ini sudah diterjemahkan ke dalam sejumlah bahasa.

Dalam perjalanan tersebut, Batutah mengambil rute yang bermula dari Irak melalui Persia, mengikuti Jalur Sutera, kemudian singgah di sisi utara dan timur Afrika, Semenanjung Crimean yang sekarang dikenal Turki, lalu menuju India, Tiongkok, Sri Lanka, Sumatera, hingga Maldives. Dalam tulisannya, beberapa tempat yang digambarkan Batutah sulit untuk diketahui keberadaannya di masa kini, walaupun ada beberapa pengamatannya yang terbukti benar. Beberapa peneliti sejarah memang masih meragukan keakuratan fakta yang ditulisnya, tapi berdasarkan perjalanan yang dilakukannya itu, sejumlah destinasi, budaya, tradisi, dan peradaban yang ditemukannya menjadi topik menarik untuk dibahas.

Berikut kami susuri kembali perjalanan ala Abad Pertengahan Ibnu Batutah yang melegenda itu.

Mekah

Perjalanan tiga dekade Ibnu Batutah tercipta saat ia melakukan perjalanan haji ke Mekah pada 1326, di mana ia kembali hingga tiga kali dan di satu periode ia memilih untuk tinggal di sana selama beberapa tahun. Menurutnya, warga Mekah sangat elegan dan bersih dalam berpakaian, kebanyakan dari mereka mengenakan baju berwarna putih, yang membuatnya terlihat segar dan seperti salju. Para wanita Mekah sangatlah cantik dan bergaya, mereka suka memakai parfum, bahkan mereka rela tidak membeli makanan dan kelaparan demi membeli parfum.

Kairo

Dalam catatannya, Ibnu Batutah menggambarkan Kairo saat itu padat penduduk di periode kedatangannya, di mana ia bertemu beragam orang yang memenuhi ibu kota Mesir tersebut. Bagi Batutah, meningkatnya populasi akibat banyaknya pendatang yang mengingatkannya akan gelombang ombak di laut. Beberapa abad setelahnya, Kairo masih dikenal sebagai kota dengan populasi terbesar di Afrika dan Timur Tengah dengan jumlah penduduk mencapai sembilan juta.

Maldives

Tak hanya mengunjungi ke kota-kota di Timur Tengah dan Afrika, Ibnu Batutah pun melintasi lautan dan berkunjung ke negeri kepulauan, seperti Maldives. Selepas komunitas di sana berpindah keyakinan dari Buddha menjadi Islam, ia menghabiskan sekitar sembilan bulan di sini, termasuk menikahi salah satu anggota keluarga kerajaan Omar I, satu dari sekitar 10 wanita yang diperistrinya sepanjang rentang 30 tahun perjalanannya. Menurutnya, “Sangat mudah untuk menikah di kepulauan ini karena kecilnya mahar yang harus diberikan. Saat kapal-kapal merapat ke daratan, kru kapal dapat dengan mudah menikahi wanita dan saat pergi, mereka dengan mudah menceraikan istrinya. Ternyata setelah ditelusuri di masa kini, Maldives tercatat sebagai daerah dengan tingkat perceraian tertinggi di antara daerah-daerah lainnya.

Turki

Dalam penjelajahannya di Turki, Batutah mengobservasi bahwa kawanan ternak dapat merumput tanpa perlu dikawal gembala karena tegasnya hukuman yang akan diberikan bagi pencuri ternak. Jika kedapatan mencuri kuda atau hewan ternak lainnya, si pencuri mesti mengembalikan barang curiannya dengan menyerahkan kembali beserta sembilan tambahan lainnya atau menggantinya dengan memberikan anak-anaknya. Batutah pun menyadari posisi dan peran wanita di Turki begitu dihargai, di mana mereka banyak memegang jabatan penting dibandingkan kaum pria. Tidak semua mengenakan jilbab dan mereka kerap menemani para suaminya. Satu lagi hal yang mengejutkan Batutah bahwa mereka kerap mengonsumsi ganja dan itu bukanlah hal yang tabu.

Tiongkok

Di sini, Batutah terpesona dengan kecanggihan komunitas melalui porselen-porselen Tiongkok yang memukau dan kapal-kapal besar yang sanggup menjajal lautan luas. Dia juga menambahkan, Tiongkok awalnya mengadopsi sistem imigrasi dengan mendokumentasikan setiap orang yang melewati negaranya. Menurut Batutah, “Saya tidak pernah kembali ke kota yang pernah saya saya kunjungi sebelumnya tanpa menemukan potret saya terpampang di dinding yang diletakkan di sebuah bazar. Mereka benar-benar mengobservasi tiap pendatang tanpa kita menyadarinya.” Aturan ketat ini menurut Batutah ada alasannya penting, untuk menjamin keamanan, jadi di saat pendatang tersebut melakukan pelanggaran dan ingin melarikan diri, mereka bisa mengamankan orang tersebut dengan menyebarkan potretnya ke seluruh wilayah untuk mempercepat pencarian dan segera menangkapnya.

Pada 1354, Batutah menghentikan perjalanannya, kembali ke Maroko dan menghabiskan sisa hidupnya menjadi seorang hakim. Ia meninggal pada 1369 di usia ke-65, di mana usia pria saat itu biasanya hanya mencapai umur 30 tahun, petualangannya ke negara-negara eksotislah yang diperkirakan sebagai alasan utama Batutah berumur panjang.