Festival Penghormatan Roh Leluhur di Okinawa

September 10th, 2018 / / Comments Off on Festival Penghormatan Roh Leluhur di Okinawa
Posted in Newsflash

Sebagai wilayah subtropis, Okinawa dikenal sebagai destinasi pantai dan aktivitas menyelamnya. Selain itu, negeri kepulauan ini juga sarat dengan budaya dan sejarah yang melekat, yang dapat dinikmati melalui Festival Eisa yang berlangsung saat musim panas. Dalam kunjungan kami ke Okinawa beberapa waktu lalu, Naha, ibu kota Okinawa begitu meriah dengan perhelatan tahunan yang menarik penduduknya untuk memenuhi Okinawa Cellular Stadium (lapangan baseball), yang menjadi tuan rumah penyelenggaraan Festival Eisa 2018.

Eisa merupakan tarian yang dipersembahkan untuk mengirim roh leluhur ke dunia lain di hari terakhir tradisi Bon, di mana festival ini merupakan tradisi warga Jepang untuk menghormati roh leluhur dan meyakini bahwa roh nenek moyang mereka datang dunia lain untuk berkunjung ke rumah. Tradisi ini sudah berkembang, tidak hanya sebagai sebuah ritual tapi juga menjadi momen liburan dan reuni keluarga, di mana warga Jepang biasanya akan pulang ke kampung halamannya dan bersama-sama membersihkan makam para leluhur.

Kemeriahan Festival Eisa biasanya diramaikan dengan sejumlah grup penari yang terdiri dari 20 hingga 30 orang, di mana para grup terdiri dari anggota pria, wanita, tua, muda, yang bersama-sama melakukan gerak tubuh sambil memainkan alat musik pukul ragam jenis. Karena konsepnya bukan kompetisi, grup tari Eisa lebih santai dalam melakoni gerak tari namun tetap menampilkan pertunjukan apik di hadapan warga Okinawa dan wisatawan yang memenuhi stadiun. Beberapa grup menampilkan gerakan-gerakan autentik dan klasik, tapi ada pula sebuah grup yang memadukan elemen modern dengan menyelipkan tarian breakdance di tengah-tengah atraksi mereka.

Terdapat sejumlah alat musik dan peran penari saat tarian dipertontonkan, yaitu:

-Odaiko (bentukanya seperti barel besar) dan Shimedaiko (drum berukuran sedang). Kedua alat musik ini akan menghasilkan suara yang keras, yang akan dipukul seiring gerak tangan dan kaki yang dilakukan secara dinamis.

-Ikigamoi (boy teodori hand dance) dan Inagumoi (girl teodori hand dance), mereka rombongan penari yang mempercantik tarian Eisa.

-Sanaja/Chondara (badut), biasanya mereka mengenakan tata rias dan kostum yang lucu, yang fungsinya memberi efek jenaka bagi penonton.

-Hatagashira (pembawa bendera) akan berdiri di depan kelompok dan bertugas untuk mengibarkan bendera ke atas dan bawah, yang disesuaikan dengan irama musik.

-Jikata/Jutei (penyanyi), mereka yang akan menyanyikan tembang sambil memainkan sansing (gitar khas Okinawa).

Selain dihiasi dengan atraksi para penari Eisa, festival ini juga menjadi tempat terbaik untuk mencicipi kuliner lokal. Tersedia berbagai stan makanan di sekitaran stadiun, tapi yang paling seru adalah Orion Beer Fest, festival bir dari merek bir lokal, Orion. Walau tidak sebesar Oktoberfest di kota Munich, Jerman, Orion Beer Fest menjadi pilihan favorit pengunjung yang ingin bersantai sambil minum bir dan bersosialisasi dengan sesama pengunjung lainnya. Tersedia area luas yang terbuka, dengan jajaran meja dan kursi yang memenuhi area, serta dikelilingi stan-stan penjual makanan dan minuman. Di satu sudut terdapat panggung yang biasa menyajikan pertunjukan musik, hiburan alternatif selain menonton tarian Eisa.

Berkunjung ke Okinawa

Untuk berkunjung ke Okinawa, tepatnya Naha, wisatawan dapat menaiki Japan Airlines (JAL) dari Jakarta menuju Tokyo. Perjalanan sekitar 7-8 jam dari Jakarta akan menggunakan pesawat terbaru JAL, Boeing 787-9 dan Boeing 787-8 yang dikenal dengan sebutan Dreamliner. Pesawat tipe ini begitu menarik karena sudah dilengkapi jendela elektronik, di mana penumpang dapat mengatur tingkat masuknya cahaya sesuai dengan keinginan, serta toilet elektronik yang akan memudahkan penumpang selagi mengudara.

Dengan konfigurasi kursi 2-4-2 di Kelas Ekonomi, penumpang JAL akan menikmati perjalanan dengan area kaki yang lebih lega. Maskapai perain Best Economy Class Airline Seats versi Skytrax pada 2016 dan 2017 juga dilengkapi fasilitas WiFi (dengan tambahan biaya) dan saklar listrik di semua tempat duduk. Dari Tokyo, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan ke Naha masih menggunakan JAL dengan durasi dua jam perjalanan.