24 Jam di Phnom Penh

December 3rd, 2018 / / Comments Off on 24 Jam di Phnom Penh
Posted in Newsflash

Phnom Penh, ibu kota Kamboja yang biasanya menjadi kota transit para pejalan sebelum atau sesudah mengunjungi Siem Reap yang populer dengan Angkor Wat-nya. Walau terlihat seperti ibu kota pada umumnya, Phnom Penh ternama dengan Sungai Mekong memiliki sejumlah atraksi dan tempat menarik untuk dikitari. Inilah tempat-tempat yang dapat dikunjungi wisatawan jika hanya memiliki satu hari bermalam di Phnom Penh.

Pagi

Jangan malas untuk bangun lebih pagi karena pemandangan Phnom Penh di pagi hari menyenangkan, apalagi jika Anda menyusuri tepian Sungai Mekong di kawasan Sisowath Quay, yang merupakan tempat favorit warga kota untuk menyambut hari baru dengan berolahraga, beberapa ada yang memainkan alat musik, atau hanya duduk menikmati pagi. Jika Anda memulai penelusuran dari sisi utara Sisowath Quay dekat pasar, jalanlah mengikuti jalur yang sudah ada yang akan membawa Anda ke Sungai Tonle Sap yang menampilkan jajaran bar, restoran, dan hostel. Di sini Anda bisa menikmati sarapan sambil menyeruput kopi, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Royal Palace yang dapat dijangkau dengan berjalan kaki.

Sebelum memasuki Royal Palace, pastikan untuk mengenakan pakaian yang sopan dan tertutup di bagian bahu dan jangan menggunakan rok atau celana yang panjangnya di atas lutut (bagi pengunjung wanita), hal ini dikarenakan di dalam istana terdapat kuil sakral yang dapat dikunjungi. Istana Raja Sihamoni ini dapat dikunjungi dari pukul 08:00-11:00 dan 14:00-17:00 setiap harinya, memberi kesempatan bagi pengunjung menjelajah bangunan-bangunan di dalam istana yang ramai dengan desain dan arsitektur Khmer. Untuk kunjungan ke Royal Palace, Anda bisa menyediakan 1-2 jam untuk mengeksplor kompleks istana. Setelahnya, bisa dilanjutnya dengan mengunjungi Street 178 yang dikenal sebagai lorong artistik yang berada dekat Royal University of Fine Arts. Di sini, Anda bisa menikmati pemandangan galeri dan studio seni yang tidak begitu besar dan menampilkan hasil karya seniman lokal. Di sekitaran Street 178 juga tersedia beberapa kedai makan dan restoran yang bisa dipilih sebagai tempat menikmati makan siang.

Siang 

Perut sudah terisi, petualangan pun dilanjutkan. Destinasi berikut ini tak boleh dilewatkan karena menjadi bagian penting dari sejarah kelam Kamboja yang beberapa dekade lalu mengalami aksi pembantaian massal saat rezim Pol Pot berkuasa. Ada dua tempat yang berkaitan dengan tragedi itu, yaitu The Killing Fields (Cheung Ek Genocidal Centre) dan Tuol Sleng Genocide Museum. Pertama, kunjungi dulu The Killing Fields yang berada 15 kilometer di luar Phnom Penh, Anda bisa menyewa tuk-tuk sepanjang siang untuk mengantarkan ke dua tempat sejarah ini. Penampakan The Killing Fields berupa lahan terbuka dengan gundukan tanah di beberapa area yang dulunya merupakan pemakaman massal korban pasukan Khmer Merah. Disarankan untuk menggunakan layanan audio tur untuk mendengarkan kisah dan penjelasan titik-titik penting di kawasan ini. Dekat pintu masuk, terdapat menara stupa yang berisi kumpulan tengkorak milik korban, yang ditemukan terkubur di The Killing Fields. Area ini menjadi tempat pembantaian yang dilakukan pasukan Khmer Merah kepada warga Kamboja yang dianggap membahayakan keberadaan rezim Pol Pot, biasanya pembantaian dilakukan tidak menggunakan senjata api karena dianggap terlalu berisik dan akan menarik perhatian penduduk sekitar.

Tempat berikutnya yang bisa didatangi adalah Tuol Sleng Genocide Museum yang dulunya merupakan bangunan sekolah, kemudian diambil alih Khmer Merah sebagai penjara dan ruang interogasi para tahanan politik dan rakyat biasa. Banyak yang mengalami penyiksaan selama proses interogasi berlangsung, sebelum mereka akhirnya dibawa ke Cheung Ek untuk dieksekusi. Bangunan tiga tingkat ini berisi ruangan yang menjadi tempat interogasi juga penyiksaan, di sisi lain terdapat area penjara, juga terdapat sejumlah alat penyiksaan yang dipajang. Tidak banyak yang selamat ketika dibawa ke Tuol Sleng, mereka yang bertahan bisa dihitung jari. Mereka bisa ditemui menjual buku dekat pintu keluar yang menceritakan pengalaman tragis yang dialaminya.

Sore

Berkunjung ke The Killing Fields dan Tuol Sleng Genocide Museum membuat terlena dengan kisahnya yang suram, tapi jangan terlalu sore untuk beranjak dari sana karena Anda masih bisa mengunjungi Russian Market atau disebut orang lokal sebagai Psar Tuol Tom Pong. Pasar tradisional ini merupakan tempat terbaik untuk membeli suvenir khas Kamboja, seperti kaos dengan tulisan Same-Same But Different, tulisan Cambodia, gambar Buddha, atau gambar Angkor Wat. Toko pernak-pernak kerajinan tangan, sepatu, tas, bahan pangan, dan onderdil kendaraan menyatu di Russian Market, memberi varian barang yang dijajakan. Saat belanja, jangan sungkan untuk menawar dan pertimbangkan mata uang yang ingin digunakan karena proses transaksi di Kamboja dapat menggunakan riel Kamboja atau dolar US. Hitung dulu harga penawaran, apakah menguntungkan jika menggunakan mata uang lokal atau dolar US.

Malam

Anda bisa kembali menjelajah kawasan depan Sungai Tonle Sap yang tak pernah sepi atau mendatangi Malis yang menawarkan kuliner Khmer yang autentik. Dikomandoi oleh koki handal, Luu Meng, pengunjung Malis wajib mencicipi The Bang Bang, yaitu sajian lobster sungai yang dibumbui dengan prahok (daging ikan yang dicincang) dan cabai, yang dimakan bersama jasmine rice. Beberapa pejalan memilih untuk menikmati dinner cruise sambil mengitari Sungai Mekong, di mana terdapat paket pelayaran yang dimulai sebelum matahari terbenam hingga berlanjut ke makan malam.