Waktunya Melirik Rote

December 28th, 2018 / / Comments Off on Waktunya Melirik Rote
Posted in Editor's Picks

Setelah kepopuleran Kepulauan Komodo dan Sumba yang sama-sama berada di Nusa Tenggara Timur, kini saatnya melirik Rote yang dengan mudah diakses dari Kupang. Di kalangan peselancar internasional, ombak di pantai-pantai indah berpasir putih di sini telah banyak dijadikan bucket list, selain tentu saja, kejuaraan selancar internasional hampir tiap tahun diadakan di sini. Walau memiliki tradisi membuat tenun ikat seperti pulau-pulau lain di Nusa Tenggara Timur, namun alat musik sasando – atau sasandu warga setempat menyebutnya – memang berasal dan hanya ada di Rote.

Istana Kerajaan Thie

Walau luas Rote hanya sekitar 2.000 kilometer persegi, di pulau ini pernah berdiri 19 kerajaan. Dari sekian banyak kerajaan, yang jejaknya masih dapat disaksikan adalah Istana Kerajaan Thie di Desa Oebafok, Rote Barat Daya. Berada sekitar 15 kilometer dari pusat kota, jangan berharap melihat istana luas dan megah, berhubung istana ini bertempat di sebuah rumah tradisional yang beratapkan daun lontar kering dan berlapiskan anyaman alang-alang.

Banyaknya jumlah kerajaan di Rote itu bermula pada zaman kolonial Belanda, yang merupakan bagian dari gerakan devide et impera. Praktik ini mudah dilakukan di Rote karena di pulau ini terdapat 10 suku dengan 25 subsuku dan bahasa yang berbeda-beda. Biasanya, suku-suku besar terkelompok dalam satu kerajaan. Kerajaan besar di Rote awalnya ada empat, yaitu Kerajaan Korbafo, Bilba, Termanu, Dengka, yang kemudian memisahkan diri dan membentuk kerajaan sendiri, salah satunya Kerajaan Thie.

Rumah Musalaki

Rumah adat Rote ini berkonsep rumah panggung dengan ketinggian dari tanah sekitar 40-80 sentimeter. Terbuat dari kayu dan berbentuk persegi panjang, penutup atapnya terbuat dari daun lontar atau anyaman alang-alang. Untuk memasuki rumah, pengunjung harus menaiki tangga dan tangga ini hanya terdapat pada pintu masuk. Di bagian depan terdapat balai untuk menerima tamu dan seperti halnya rumah adat panggung di daerah lain di Indonesia, rumah adat di Rote juga memiliki fondasi yang tidak ditanam di dalam tanah, melainkan menggunakan batu besar datar sebagai penyangga tiang-tiang rumah dan fondasi ini fleksibel sehingga tahan gempa. Makam-makam leluhur berada di depan rumah dan budaya masyarakat agraris yang memuja roh nenek moyang tetap dilakukan walau mayoritas telah menganut Katolik.

Batu Termanu

Berada di Kabupaten Rote Ndao atau di timur Ba’a, ibu kota Rote, Batu Termanu dapat ditempuh dengan berkendara (menyewa mobil atau motor) selama 30 menit. Pantai yang menghadap Laut Sawu ini dihiasi serakan karang dan hamparan bukit batu yang megah. Di musim kemarau – dan musim kemarau di Rote lebih panjang dibandingkan di wilayah-wilayah lain di Indonesia – kawasan ini akan menampilkan nuansa cokelat kemerahan yang eksotis, terlebih di bawah sinar matahari sore dan seketika mengingatkan akan tampilan Planet Mars.

Pemandangan paling mencolok di sini adalah dua batu menjulang, di mana satu berada di pantai dan satunya lagi di air. Konon, kedua batu tersebut adalah sepasang suami istri, di mana batu yang menjulang di darat adalah sang istri dan batu yang lebih lebar serta terendam air tak jauh dari pantai adalah sang suami. Menurut legenda setempat, batu yang disebut suami tersebut terapung di laut dan berasal dari Pulau Seram, karena memang nenek moyang orang Rote dipercaya berasal dari Seram. Ketika tiba di Rote, yaitu di lokasi Batu Termanu, ia mendapati sebuah batu menjulang di pantai dan membuatnya betah, sehingga sang batu pun memutuskan untuk menetap di sana. Merupakan pantai yang menyajikan pemandangan matahari terbenam yang menawan, di sini pun pengunjung dapat berenang, snorkeling, dan bahkan trekking ke puncak bukit untuk menikmati pemandangan sekitar dari ketinggian.

Bukit Mando’o

Disebut juga Bukit Tangga 300, reputasi bukit di Lobalain, Rote Timur, ini terkenal karena keberadaan sekitar 488 anak tangganya yang mengarah ke puncak, di mana di sana tersaji pemandangan pantai di Desa Kuli yang dikelilingi hutan bakau. Karena sebelumnya anak-anak tangga di sini hanya 300, nama bukit ini telah terlanjur disebut Bukit Tangga 300 oleh warga setempat, walau kini jumlah anak tangganya telah lebih dari 300.

Menjulang 1.500 meter di atas permukaan laut, bukit ini merupakan titik tertinggi di Pulau Rote. Di sepanjang trek menuju puncak bukit, telah tersedia bale-bale bagi pengunjung yang ingin beristirahat atau sekadar berlindung dari sengatan matahari dan hujan. Di puncak bukit ini juga kerap terlihat kawanan kera. Tidak disarankan memberi kera-kera tersebut makanan, agar mereka tidak agresif setiap melihat manusia. Tempat yang ramai di akhir pekan ini juga merupakan spot terbaik di Rote untuk menikmati pemandangan matahari terbenam. Dari Ba’a, perjalanan ke Bukit Mando’o dapat ditempuh selama satu jam berkendara.

Pantai Nemberala

Nama Rote mendunia berkat pantai yang ombaknya sangat menantang bagi para peselancar ini. Bila tidak sedang digelar kompetisi surfing internasional (biasanya September atau Oktober yang merupakan saat terbaik untuk surfing di Rote karena ombak sedang tinggi-tingginya), sangatlah menyenangkan duduk-duduk di pasir putih pantai paling terkenal di Rote ini. Oleh karena itu tak heran, konsentrasi akomodasi di sini juga tinggi dan turis yang berkunjung ke Rote rata-rata memilih di kawasan Nemberala.

Karena matahari terbenam di sini pun dinobatkan sebagai salah satu yang terindah di Indonesia, pantai di selatan pulau ini memang lebih ramai menjelang senja. Pada 2016, Nemberala dinobatkan sebagai Pantai Surfing Terpopuler dalam ajang Anugerah Pesona Indonesia karena memang gulungan ombaknya nyaris tidak pernah berhenti, sehingga peselancar, baik yang sedang belajar maupun yang telah profesional, dapat puas surfing di sini.