Membiarkan Ubud Mengobati Jiwa & Raga (Bagian 1)

May 12th, 2019 / / Comments Off on Membiarkan Ubud Mengobati Jiwa & Raga (Bagian 1)
Posted in Editor's Picks

Esensi staycation adalah membiar diri untuk bersantai untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran, sehingga bila berniat staycation, penting untuk meminimalkan aktivitas di luar hotel. Oleh karena itu, dalam proses penyeleksian hotel untuk staycation, yang perlu dipertimbangkan adalah kelengkapan fasilitas dan pilihan aktivitas yang ditawarkan. Kawasan Ubud, sesuai namanya yang berasal dari kata “ubad” yang berarti obat, memang tempat untuk memulihkan semua yang perlu dipulihkan.

Terletak di Desa Pejeng  Kangin di kawasan Tampaksiring yang asri, HOSHINOYA Bali adalah pilihan sempurna untuk staycation. Lokasinya yang terpencil di tengah desa yang diapit sawah, lembah, dan sungai, serta berjarak sekitar 45 menit berkendara dari pusat Ubud, rancangan properti hotel ini memang sengaja dibuat agar para tamu betah dan bahkan tak terpikir untuk keluar hotel karena banyak hal dapat dinikmati di sini. Walau begitu, bagi yang ingin keluar hotel pun HOSHINOYA Bali menyediakan shuttle gratis ke/dari pusat Ubud (mobil akan berhenti di Museum Puri Lukisan yang tak jauh dari pasar Ubud), selain tersedia pula sewa mobil privat dengan supir per jam (minimum sewa dua jam).

Berdua Dimanjakan Alam dan Santapan

Selain menghabiskan waktu di kamar yang ditata apik dengan mengawinkan gaya minimalis Jepang dengan kekhasan budaya setempat melalui dekor ruangan berupa aneka ukiran Bali yang indah, menikmati waktu berkualitas bersama pasangan juga dapat dilakukan di Café Gazebo yang menghadap lembah. “Meja” di café ini ditempatkan di bilik-bilik semi terbuka yang mirip kendang burung agar menyatu dengan hutan di sekitarnya. Berada di sini, mata akan dimanjakan dengan semilir angin lembut, pemandangan asri, dan sayup-sayup gemericik air dari subak dan Sungai Pakerisan di dasar lembah. Menghadirkan privasi, jarak bilik satu dengan lainnya berjauhan, selain pramusaji pun baru akan muncul bila dipanggil dengan bel yang tersedia di tiap meja.


Foto oleh Hoshino Resorts

Walau hanya memiliki satu restoran, di mana untuk sarapan, makan siang, dan makan malam, namun HOSHINOYA Bali membuat menunya sedemikian rupa sehingga para tamu tidak merasa bosan. Untuk makan malam, bila ingin menghabiskan waktu di hotel saja, tersedia set menu Bali kontemporer yang menarik untuk dicoba. Sebagai akomodasi yang menghadirkan perkawinan budaya Bali dan Jepang, selain kamar, set menu ini adalah kesempatan lain untuk menikmati keindahan dua budaya tersebut. Terdiri sembilan course, para tamu akan dibuat terkesima bagaimana beragam hidangan Indonesia maupun Jepang ini dihidangkan secara modern dengan konsep bersantap tradisional khas Jepang yang disebut Kaiseki dan mengambil detail dari kedua budaya.

Kaiseki Bali

Diawali dengan amuse bouche berupa sate lilit, rempeyek kacang , dan irisan bayi gurita yang dibumbui dengan aneka rempah khas Bali terhidang di atas plat tembaga untuk membuat batik cap. Selanjutnya hadir menu pembuka berupa soto ayam dan pendampingnya yang tersaji manis di set nampan, cawan, sendok porselen khas Jepang, yang diikuti dengan tuna tataki dan pepes tenggiri. Rangkaian hidangan pembuka masih berlangsung karena setelahnya tersaji cawan mushi yang diolah dengan santan untuk mendapatkan tekstur yang creamy. Hidangan utama dalam rangkaian makan malam istimewa itu berupa steik wagyu tenderloin yang disajikan dengan tiga jenis saus, yang dilanjutkan dengan semangkuk kecil nasi dengan rendang. Seperti urutan Kaiseki, nasi pun hadir terakhir dalam rangkaian hidangan utama, sebelum menu pencuci mulut terhidang. Untuk hidangan penutup, hadir bubur sumsum dan potongan buah segar dengan mousse keju yang kuahnya disajikan langsung di hadapan para tamu bak membuat cocktail menggunakan shaker.

Pecinta yoga pun akan dimanjakan di HOSHINOYA Bali karena Hotel yang setiap sudutnya sangatlah kondusif untuk menjaga kebugaran sambil menikmati waktu berkualitas bersama pasangan. Area untuk yoga berupa dek di udara terbuka yang menghadap lembah. Dalam sehari terdapat dua jadwal yoga, yaitu Sunrise Yoga pukul 07:30 ketika matahari belum terik dan hutan yang menutupi lembah masih tertutup kabut, serta Moonlight Yoga pukul 21:00 bagi yang ingin menenangkan tubuh dan pikiran sebelum tidur di bawah taburan bintang.

Pengalaman Spa Terbaik

Hampir semua hotel yang ideal untuk staycation menawarkan berbagai pilihan perawatan spa. Namun tak banyak yang seperti HOSHINOYA Bali yang secara detail mengemasnya sebagai sebuah pengalaman berkesan. Kompleks spanya berada dekat dasar lembah, sehingga untuk menuju ke sana, para tamu akan diajak menaiki lift terbuka berkapasitas empat orang. Perjalanan menuruni lembah ini juga bukan tanpa makna karena lift bagai ingin mengajak para tamu untuk meninggalkan sejenak apa pun yang membuat mereka lelah atau yang membebani pikiran. Semakin dekat ke dasar lembah yang asri, para tamu bagai dipersiapkan untuk menjadi manusia baru.


Foto oleh Hoshino Resorts

Perjalanan menikmati spa itu akan dilanjutkan dengan memilih minyak pijat yang diinginkan, sebelum memilih paket perawatan yang diinginkan. Spicy Body Revitalizing selama 120 menit terdiri pijat tubuh ala Bali, boreh (lulur) khas Bali dari jahe, bubuk kayu manis, dan padi organik yang dihaluskan, kemudian diakhiri berendam di air hangat yang ditaburi kelopak bunga. Body & Mind Body Relaxation Massage juga 120 menit dan hampir sama dengan Spicy Body Revitalizing, namun paket ini boreh khas Balinya diganti body scub yang terbuat dari bubuk kunyit, minyak esensial ylang-ylang, dan beras organik yang dihaluskan. Untuk perawatan yang lebih singkat, dapat memilih pijat dan boreh khas Bali atau lulur selama 90 menit.

Dengan memanfaatkan sewa mobil yang dapat dipesan dari hotel seharga Rp 100.000 per 30 menit dengan waktu minimal sewa dua jam, bersama pasangan pergilah ke beberapa tempat berikut yang masih berada di sekitar hotel.

  • Candi Tebing Gunung Kawi

Sekitar 20 menit berkendara dari HOSHINOYA Bali, terdapat sebuah candi purba, yaitu Candi Tebing Gunung Kawi, yang diperkirakan dibangun pada pertengahan abad ke-11 semasa dinasti Udayana (Warmadewa). Berada di Banjar Penaka, Tampaksiring, dan dibelah Sungai Pakerisan, candi ini sangat unik karena dipahat dari batu utuh.

  • Tegalalang

Dengan berkendara selama sekitar 30 menit dari Hoshinoya Bali, dapat tiba di Ceking Rice Terrace untuk menikmati pemandangan sawah ikonik Bali yang berundak-undak.

  • Sekitar Pusat Ubud

Dengan memanfaatkan shuttle gratis, para tamu dapat berbelanja suvenir di Pasar Ubud atau mengunjungi Museum Puri Lukisan yang memuat berbagai karya seni Bali modern. Museum lain yang direkomendasikan adalah Blanco Renaissance Museum yang bertempat di bekas rumah pelukis Spanyol, Don Antonio Blanco. Datanglah di sore hari agar dapat sekaligus menyantap makan malam di Blanco par Mandif, salah satu restoran terbaik di Ubud.

Untuk keterangan lebih lanjut, kunjungi https://hoshinoya.com/bali/en/.