Benda-benda Pusaka di Tengah Kebun

September 26th, 2014 / / Comments Off on Benda-benda Pusaka di Tengah Kebun
Posted in Editor's Picks

Museum di Kemang Timur ini pernah terpilih sebagai Museum Swasta Terbaik di Museum Awards 2013. Tempat yang dibuka tahun 2009 ini memang istimewa karena bertempat di rumah yang masih ditinggali oleh pemilik yang merupakan kolektor pecinta seni dan sejarah, Sjahrial Djalil. Sesuai namanya, dari total lahan seluas 4.200 meter persegi, Museum di Tengah Kebun mendedikasikan lahan untuk kebun seluas 3.500 meter persegi sendiri, sehingga berada di sini langsung lupa kalau masih berada di Jakarta.


Dimulai dari Pekarangan

Peserta yang maksimal per sesinya hanya boleh 10 orang ini akan disambut oleh Mirza Djalil, keponakan pemilik sekaligus pemandu tur museum yang menyimpan lebih dari 4.000 koleksi dari 63 negara dan 26 provinsi di Indonesia. Tur dimulai dari halaman karena di sana juga terpajang guci, arca, relief, dan Coco de Mer (kelapa kembar langka dari Kepulauan Seychelles). Tembok rumah ternyata dibangun dengan 65.000 batu bata dari bekas gedung VOC dan 15.000 batu bata tua tambahan dari gedung metereologi yang dibangun tahun 1896. Engsel pintunya pun berasal dari Penjara Wanita Bukit Duri yang merupakan bekas Gedung Meester Cornelis di abad 18.

“Sebagian besar koleksi ini dibeli di rumah lelang Christie’s menggunakan uang pribadi. Tujuan membuka rumah ini adalah agar generasi muda peduli sejarah,” jelas Mirza di awal tur. Setelah mengelilingi halaman, barulah peserta diajak masuk ke dalam rumah dengan terlebih dahulu berganti alas kaki dengan yang sudah disediakan. “Di dalam ada permadani Pakistan dari abad 19 yang hanya bisa diinjak dengan alas kaki yang lembut,” ujar Mirza sambil meminta peserta melepas alas kaki mereka. “Nanti kalau ada yang merasa sesuatu, tidak usah diambil pusing, ya!” kata Mirza lagi sebelum memasuki ruang tamu.

“Sesuatu” yang dimaksud itu tentu saja energi dari alam lain yang bersinggungan dengan alam manusia, berhubung benda-benda yang dipajang di rumah ini merupakan benda pusaka, seperti benda kubur (patung yang dikubur bersama orang penting di zamannya) dan senjata milik pendekar yang terkenal sakti. Walau penataan benda-benda di museum ini tidak beraturan, bahkan hingga ke toilet dan dapur, dengan penamaan seadanya – tanpa penjelasan yang memadai tentang sejarah, tahun, dan trivia seperti museum pada umumnya – namun koleksi yang dimiliki memang mengagumkan. Terlebih dari Mirza diketahui hal-hal yang lucu dan menyentuh di balik setiap koleksi. Misalnya saja, untuk mendapatkan relief salah satu candi, ketika itu Sjahrial sampai harus menjual apartemennya di lokasi strategis yang menghadap Opera House di Sydney.

Museum di Tengah Kebun terbagi dalam 17 ruangan yang dinamakan sesuai dengan koleksi yang paling mendominasi atau paling disukai di ruangan tersebut, seperti Ruang Buddha yang memajang patung Buddha dari berbagai negara, Ruang Dewi Sri yang memuat patung Dewi Sri dari abad ke-10, Ruang Loro Blonyo yang berisi patung Loro Blonyo, dan Ruang Wilhelm yang berisi lukisan Raja Wilhelm dari Jerman.


Ruang Favorit

Karena Sjahrial masih tinggal di rumah ini, maka pengunjung pun akan bertemu tuan rumah. Ketika itu Djalil sedang berada di kamarnya sambil mendengarkan opera. Kamar tidur Djalil memang tidak besar, malah jauh lebih besar kamar mandinya yang semi terbuka. Kamar mandi ini diberi nama Ruang Singagaruda dengan kursi malas dari Dinasti Qing, China, di tahun 1700-an, lampu minyak Perancis dari abad ke-19, dan bangku mahagoni milik Raja George II. Mirza juga menunjukkan lemari pakaian Sjahrial yang ternyata diatur berdasarkan warna, begitu pun lemari sepatu dan perkakas.

Di akhir tur, pengunjung akan diajak berfoto bersama di tengah kebun dengan arca Ganesha yang dipahat pada tahun 800-an di Jawa Tengah, kemudian meneguk segelas es teh manis. “Yang mau menambahkan minuman dengan sisa minuman Napoleon silakan, tapi risiko tanggung sendiri!” seloroh Mirza. Minuman Napolen yang dimaksudnya adalah seperangkat gelas dan wadah brandy yang pernah digunakan Napolen. Di botolnya masih terdapat sisa minuman yang kini wujudnya sudah coklat pekat dan mengental bersama zaman.


FIND ME

Museum di Tengah Kebun
Jl. Kemang Timur No. 66
Jam operasional: Rabu, Kamis, Sabtu, dan Minggu dengan pilihan sesi pukul 09.30 – 12.00 WIB dan 12.30 – 15.00 WIB yang per sesinya maksimal 10 orang. Tidak bisa langsung datang, harus dengan perjanjian via telepon ke (021) 7196907. Jangan terlambat, harus sudah ada di tempat 15 menit sebelum tur dimulai.