Di Balik Ramuan Jamu

June 10th, 2015 / / Comments Off on Di Balik Ramuan Jamu
Posted in Your Stories

 

Jamu telah mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia, tak hanya sekadar di dapur, namun juga telah selalu terselip dalam traveling kit. Menghangatkan tubuh dengan jahe, meredakan batuk dengan jeruk nipis, menyembuhkan sakit perut dengan kencur, dan mencegah masuk angin dengan cairan herbal yang dijual dalam bentuk sachet adalah ha-hal yang dapat mendefinisikan ke-Indonesiaan seseorang. Sistem penyembuhan dan pemeliharaan kesehatan yang disebut jamu ini  memiliki sejarah yang terentang lebih dari 1.300.  Belakangan jamu bahkan diusulkan untuk mendapat pengakuan dunia sebagai warisan budaya asli Indonesia ke UNESCO.

 

Tradisi yang Membudaya 

Pada awalnya, bercocok tanam hanyalah untuk menghasilkan pangan. Namun kemudian masyarakat  mulai mengenal khasiat dari sejumlah tanaman dan menggunakannya untuk obat-obatan dan merawat kecantikan. Meskipun tak ada yang dapat memastikan kapan pastinya tradisi meracik dan meminum jamu ini muncul di Indonesia, banyak yang meyakini tradisi ini telah berjalan ratusan tahun dan diperkaya dengan masuknya pengaruh Hindu, Budha, India, China, Kristen, dan Islam melalui perdagangan. Bukti sejarah ini dapat ditemukan melalui peninggalan berupa prasasti, relief candi, peninggalan kuno berupa alat pembuat jamu, serta naskah kesusasteraan.

Menurut Prasasti Yupa yang berasal dari Kerajaan Kutai, diduga masyarakat Indonesia telah mengenal ilmu meracik jamu sejak abad ke-5 Masehi. Bukti lain pemanfaatan tumbuhan untuk obat juga terukir pada relief Candi Borobudur yang memperlihatkan penggunaan berbagai jenis tanaman obat endemik oleh masyarakat sekitar candi di masa itu. Tradisi ini kemudian berkembang di Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Meski demikian, hanya mereka yang tinggal di lingkungan kerajaanlah yang mengenal dan meminum jamu, selain yang memilikik keahlian meracik jamu pun hanya kalangan tertentu.

Seiring waktu, pembuatan jamu pun tak lagi secara tradisional. Era modern ini berawal pada abad 20, tepatnya di tahun 1910 ketika Tan Swan Nio dan Siem Tjiong Nio mendirikan Djamoe Industrie en Chemicalien Handel “IBOE” Tjap 2 Njonja (kini PT Jamu Iboe Jaya) di Surabaya dan memasarkannya ke berbagai wilayah, termasuk luar Jawa sehingga penyebaran jamu pun mulai meluas. Hingga saat ini, tercatat 1.000 perusahaan dengan berbagai skala yang memproduksi berbagai macam bentuk jamu, mulai dari bubuk, pil, hingga kapsul untuk merawat tubuh, memelihara kesehatan, meningkatkan kebugaran,maupun menyembuhkan penyakit.

 

Ragam Jamu

Selain Indonesia, negara atau wilayah lain sebenarnya memiliki tradisi yang serupa dengan jamu, yaitu pemanfaatan bahan-bahan herbal untuk pengobatan tradisional. Misalnya saja pengobatan Ayurveda dari India, pengobatan tradisional China, atau pengobatan Greco-Arab. Namun jamu khas Indonesia memiliki banyak keistimewaan, terutama pada komposisi bahan bakunya.

Indonesia merupakan negara subur yang memiliki sumber daya alam melimpah sehingga ramuan jamunya pun bervariasi dengan bahan yang berkualitas baik. Ditumbuhi berbagai jenis tanaman obat-obatan, termasuk tanaman langka, seperti kedawung, pulasari, pulai, bangle, temu giring, dan joho keling, jumlah spesies tanaman di Indonesia ini juga membuat bahan baku industri jamu tak tergantung pada bahan impor.

Jamu memiliki berbagai macam khasiat, misalnya jamu beras kencur yang berguna untuk menghilangkan rasa nyeri pada tubuh dan merangsang nafsu makan; jamu kunir asam untuk menghindari panas dalam dan sariawan serta menyegarkan tubuh; jamu cabe puyang untuk menghilangkan pegal dan menurunkan demam; dan jamu pahitan untuk menghilangkan rasa pegal pada tubuh, mengurangi diabetes, menghilangkan bau badan, dan menurunkan kolesterol. Sebagai obat tradisional, jamu jmerupakan alternatif obat modern yang beredar di pasaran. Karena menggunakan bahan-bahan alami, jamu pun bebas efek samping dan baik untuk dikonsumsi sehari-hari.