Desa Tukang Pande di Banyumulek

December 9th, 2014 / / Comments Off on Desa Tukang Pande di Banyumulek
Posted in Your Stories

Disebut Pulau Seribu Masjid karena banyaknya masjid indah di Lombok, pulau yang terletak di dalam susunan Kepulauan Sunda Kecil atau Nusa Tenggara yang terpisah oleh Selat Lombok dari Bali di sebelah Barat ini memiliki karakteristik pulau seperti Bali. Sejak krisis moneter 1998, Lombok sempat mengalami penurunan di segi ekonomi hingga seiring berjalannya waktu, pulau yang menggantungkan hidup dari sektor pariwisata ini membuktikan bahwa sinar kecantikannya tidaklah redup.

Lombok bisa dicapai hanya tiga puluh menit dari Bali dengan pesawat atau sekitar empat jam dengan kapal feri dari Padang Bai ke Lembar. Namun untuk perjalanan kali ini saya memanfaatkan penerbangan langsung Jakarta-Lombok dengan waktu tempuh dua jam.

Alam LombokSetibanya, saya disuguhi pemandangan barisan perbukitan dan pohon kelapa yang seakan melambaikan tangan kepada wisatawan. Udara di musim kemarau cukup terik sehingga saya merasa sangat beruntung datang dengan bercelana pendek sambil menenteng kamera yang siap mengabadikan suasana alam sepanjang jalan dari bandara menuju Kota Mataram, tujuan pertama saya di Pulau Lombok.

Tiba di Mataram sekitar pukul 11:00, saya memutuskan untuk makan siang dengan mencoba salah satu makanan khas Lombok, yaitu Nasi Balap Puyung. Menurut sang pemilik rumah makan, nasi ini berasal dari Desa Puyung yang terletak sekitar dua puluh menit dari Mataram. Nasi Balap Puyung mengingatkan saya dengan Nasi Langgi, yaitu terdiri dari nasi putih, suwiran ayam goreng kering, ayam cincang, bumbu manis pedas, dan kacang kedelai. Tak lupa saya memesan plecing kangkung yang dalam sekejap membuat keringat mengucur deras saking pedasnya. Yuk makan!

Desa Banyumulek
Saya sudah banyak mendengar banyak cerita menarik mengenai Lombok, seperti Pink Beach dengan pasir merah mudahnya, Pantai Kuta yang memiliki pasir bertekstur seperti merica, atau Senggigi yang memiliki garis pantai yang menakjubkan. Namun pada perjalanan kali ini saya memutuskan untuk pergi ke sebuah desa penghasil gerabah (pepandean) bernama Desa Banyumulek yang konon keterampilan pengrajin (tukang pande) di desa ini sudah diwariskan turun-temurun. Setelah berkendara sekitar tiga puluh menit, tibalah saya di gerbang Desa Banyumulek yang ditandai dengan sebuah gapura besar berhiaskan patung-patung tempayan besar terbuat dari tanah liat.

Mengunjungi Kantor Desa Banyumulek untuk mendapatkan informasi  tambahan, saya pun bertemu dengan kepala koperasi desa, Ibu Sri. Ibu Sri membenarkan cerita bahwa Desa Banyumulek adalah desa penghasil gerabah di Lombok, bahkan ternyata sembilan puluh persen penduduknya menggantungkan hidup dari produksi gerabah. Penasaran, saya meminta Ibu Sri untuk mengantar saya berkeliling. Permintaan saya pun disambut dengan senyum sumringah. Setelah mengajak serta beberapa pemuda Karang Taruna, Ibu Sri pun mengantar saya mengeksplor desa.

Sepanjang perjalanan, tak jarang saya berpapasan dengan para penduduk yang malu-malu dan bersembunyi saat saya mulai mengangkat kamera untuk mengabadikan foto mereka. Seringkali saya mendengar mereka berbicara dalam bahasa Sasak dan hanya ada satu kata yang saya mengerti, yaitu Korea. Ibu Sri menjelaskan bahwa penduduk setempat mengira saya turis dari Korea karena perawakan saya yang terlihat sangat oriental. Sungguh lucu melihat tingkah anak-anak yang sesekali memperhatikan kehadiran saya dan saat saya membalas tersenyum, mereka langsung tersipu malu dan lari menuju rumah. Para pemuda yang menemani saya pun sesekali menyapa ramah sang empunya rumah yang kami lewati dan mengambil suluh bambu untuk mengambil jambu yang tumbuh liar di sepanjang jalan. Saya juga melihat banyak hamparan tanah liat serta pasir campuran bahan gerabah yang sedang dijemur di perkarangan rumah penduduk.

Tak bisa membendung rasa keingintahuan, bertanyalah saya kepada salah satu pemuda yang ikut dalam rombongan dan ternyata dari pemuda inilah saya mendapatkan banyak sekali cerita menarik seputar asal-usul gerabah di Banyumulek.

Gerabah di Banyumulek
Banyumulek - Proses Pembakaran GerabahKerajinan gerabah di Banyumulek telah dimulai sejak berkembangnya Kerajaan Selaparang pada abad 17 hingga 18. Cerita bermula ketika ada seorang kakek bernama Papuk Mulek yang berasal dari keturunan Selaparang menetap dan tinggal di Desa Banyumulek. Selama Papuk Mulek menetap di desa ini, tumbuh keinginan untuk membuat wadah yang didorong oleh faktor kebutuhan dalam kehidupan sehari-harinya. Pada mulanya Papuk Mulek beserta beberapa orang belajar membuat gentong untuk tempat air dan periuk untuk memasak nasi. Kemudian berkembang dan membuat tapak (paso) sebagai bubungan rumah tempat tinggal yang dihiasi dengan bentuk kuda-kudaan. Dengan demikian jadilah Papuk Mulek dianggap sebagai pionir pertama dalam pembuatan gerabah Banyumulek yang ada hingga saat ini. Kerajinan gerabah yang diwariskan turun-temurun oleh Papuk Mulek ini seiring waktu mengalami penambahan bentuk dan fungsi. Karena jasanya, desa ini pun dinamakan Desa Banyumulek.

Desa Banyumulek sendiri terdiri dari dua belas dusun yang masing-masing memiliki spesifikasi keahlian masing-masing dalam pembuatan gerabah. Dua di antaranya, yaitu Dusun Dasan Tawar dan Dusun Kebon Talu, merupakan penghasil gerabah berukuran relatif kecil, sedangkan Dusun Kebon Joget menghasilkan gerabah berukuran besar. Konon Dusun Kebon Joget dinamakan demikian karena dahulu dipenuhi oleh gadis-gadis yang pandai menari rebana. Dusun yang paling muda adalah Dusun Gubuk Baru di mana masyarakatnya memiliki mata pencaharian yang lebih beragam, seperti pengrajin gerabah, petani bung, dan petani jagung.

Melepas lelah sejenak di sebuah gubuk milik salah satu kepala dusun, saya disambut tidak hanya dengan senyum ramah sang pemilik rumah, tetapi juga dengan sajian khas berupa kacang lepaq (kacang rebus) dan puntiq lepaq (pisang rebus) yang biasa disajikan bagi tamu yang berkunjung ke empunya rumah. Sajian ditata di atas piring dan periuk kecil dengan sulutan api kecil di bawahnya untuk membuat sajian tetap hangat. Kami pun menikmatinya ramai-ramai dengan kenyamen (kelapa muda), sebelum akhirnya saya meminta Ibu Sri untuk mengantarkan saya melihat sekaligus mempelajari cara membuat gerabah.

Belajar Membuat Gerabah
Banyumulek - GerabahPerjalanan dilanjutkan ke rumah seorang ibu pengrajin gerabah yang sudah mulai membuat gerabah sejak berumur lima tahun. Di sana sang ibu mendemonstrasikan cara membuat tempayan berukuran sedang. Menggunakan alat yang sederhana dan digerakan secara manual, sang ibu tampak sangat mahir membuat sebuah tempayan. Tak sampai lima menit, bentuk tempayan sudah terlihat nyaris sempurna.

Banyumulek - Finishing Kulit TelurTernyata proses untuk membuat gerabah hingga layak jual sangatlah panjang. Mulai dari pemilihan tanah, penjemuran, penggilingan, pencampuran dengan pasir pilihan, hingga penyatuan bahan sehingga menjadi bahan dasar yang siap dibentuk. Proses pembentukan ini diikuti oleh proses pengeringan yang tidak boleh dilakukan di terik matahari, namun di tempat yang bertemperatur sejuk. Setelah itu, tempayan akan memasuki proses pembakaran yang biasanya membutuhkan waktu sekitar dua hingga empat jam. Proses akhir adalah proses finishing yang memiliki banyak alternatif, seperti lukis, ukir, cat, penambahan aksesoris dengan kulit telur, serta kombinasi dengan tali enceng gondok, pelepah dan daun pisang, anyaman rotan, dan keta (sejenis rotan namun lebih halus).

Waktunya untuk mencoba membuat gerabah! Berdasarkan pengalaman dari melihat sang ibu membuat gerabah, harusnya tidaklah sulit. Namun kenyataan pun berkata lain. Tanah liat yang saya gunakan untuk membuat gerabah mudah sekali mengeras dan akhirnya sulit dibentuk. Setelah sepuluh menit mencoba, hasil karya yang saya inginkan belum jua terlihat jelas bentuknya dan akhirnya jiwa pantang menyerah saya harus pamit mundur dengan teratur. Ya, setidaknya saya pernah merasakan menjadi mantan calon maestro Tukang Pande.

Membuat gerabah ternyata benar-benar membakar banyak kalori dan membuat perut saya mulai memanggil-manggil tanda sudah perlu diberi asupan. Saya mengajak Ibu Sri dan seluruh pemuda Karang Taruna yang dalam tempo singkat sudah sangat akrab layaknya sahabat lama untuk makan siang bersama. Tercetuslah ide untuk makan siang di pendopo milik Ibu Sri yang letaknya tak jauh dari Gerbang Desa Banyumulek.

Tadinya saya ingin mengajak mereka untuk memesan makan dari kedai makanan atau warung nasi di dekat pendopo. Untungnya, setiba di pendopo, tukang soto ayam langganan Ibu Sri sedang memangkal di sana. Jadilah kami semua menikmati soto ayam terlezat di Lombok buatan Pak Tosoto, begitu panggilan teman-teman Karang Taruna kepada bapak penjual soto yang menunggu kami menikmati soto buatannya sembari duduk manis menikmati semilir angin di sekitar pendopo yang dikelilingi pohon mangga besar-besar. Jangan tanya berapa banyak mangga masak yang kami santap ramai-ramai setelah menghabiskan semangkuk soto.

Tiba saatnya mengucapkan sampai bertemu kembali kepada Ibu Sri dan juga teman-teman lainnya yang sudah banyak sekali membantu dan menjelaskan mengenai Desa Banyumulek, si Desa Tukang Pande. Tak hanya menemukan tempat wisata dan teman-teman baru di Banyumulek, saya juga memiliki alasan kuat untuk kembali ke desa ini, yaitu melepas gelar mantan calon maestro Tukang Pande secepatnya.

 

TEKS: CHRISSY LIE